Selasa, 11 Februari 2014
Reporter: TP Moan Simanjuntak
Editor: Agustian Anas
7295
(Foto: doc)
Tiga bocah kakak-beradik, LTP (11), NS (5), SNR (3), warga RT 005/09, Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat harus pasrah menerima kenyataan hidup. Ketiga bocah yatim piatu ini dinyatakan mengidap HIV/AIDS.
Ketiga bocah tersebut diduga mengidap HIV/AIDS karena tertular dari ibunya. Sebab, berdasarkan keterangan warga sekitar, ketika masih hidup, ibunya NJ (30) bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) dan divonis mengidap HIV/AIDS. Sedangkan almarhum ayahnya SW (37) merupakan pecandu narkoba.
Ketua RW 09, Tontowi mengatakan, terungkapnya kasus HIV/AIDS ini berawal dari laporan warga. Pada Selasa (5/2) malam, NS mengalami sakit keras yang diduga akibat gizi buruk. Tapi, saat dibawa ke Puskesmas Kecamatan Tambora keesokan harinya, dokter sudah mengenalnya karena saat masih hidup ibunya intensif menjalani perawatan di puskesmas lantaran mengidap HIV/AIDS.
Ironisnya, dari ketiga bocah tersebut hanya NS yang kini dirawat intensif di RSUD Cengkareng. Sedangkan LTP dan SNR tetap tinggal di rumah pamannya karena saat dirujuk warga ke RSUD Cengkareng dan Tarakan selalu ditolak dengan alasan kamar penuh.
“Kedua RSUD tersebut mempersulit dengan alasan ruangan sudah penuh. Warga kasihan karena tiga bocah tersebut sudah yatim piatu dan miskin. Sedangkan neneknya yang merawat tidak ngerti masalah ini. Bahkan untuk membeli popok mereka, warga patungan. Dan seharusnya pemerintah peduli pada nasib ketiga bocah tersebut, bukan justru menutup mata,” ungkap Tantowi.
Camat Tambora, Yunus Burhan mengatakan, pihaknya sudah mengirim Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) GEMA yang konsen mengurus HIV/AIDS. Ini sebagai langkah antisipasi awal, agar warganya mendapat penanganan pertama.
Pihaknya, kata Yunus, juga akan berkoordinasi dengan Sudin Kesehatan Jakarta Barat agar diberikan kemudahan akses bagi LTP dan SNR mendapat perawatan khusus. “Kita juga akan berkoordinasi dengan pihak RSUD agar mendapat prioritas dan dipermudah,” tutur Yunus.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Widyastuti mengatakan, BPJS merupakan kewenangan pemerintah pusat. Pihaknya hanya bisa berkoordinasi untuk mempermudah warga mendapatkannya jika sangat gawat darurat. Namun, kata Widyastuti, dari ketiga bocah tersebut hanya NS yang kondisinya sangat parah.
Sedangkan LTP dan SNR masih belum dalam kondisi butuh perawatan. Namun, jika perlu perawatan pihaknya siap berkoordinasi dengan pihak RSUD. “LTP memang belum punya BPJS, makanya kami akan bantu jika keadaannya genting. Saya juga sudah cek tidak ada pasien yang ditolak,” tandas Widyastuti.
Sementara itu, LTP yang ditemui di pos RW 09, Kelurahan Tanah Sereal, LTP bersama adiknya SNR ditemani neneknya R (50) menuturkan, sejak kecil sudah ditinggal mati ayahnya SW. Sedangkan ibunya NJ (34) meninggal tiga bulan lalu.
“ Kami sudah ditinggal bapak sejak kecil. Sedangkan ibu saya baru meninggal tiga bulan lalu. Kami tidak punya uang untuk berobat makanya pasrah saja,” tutur LTP.
Saat ini, ketiga bocah tersebut dirawat neneknya yang bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan Rp 300.000 per bulan.
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
1.000 Lulusan SMA Sederajat Ikut Program Pemagangan di 67 Perusahaan
Senin, 04 Mei 2026
876
Pemprov DKI-Danantara Sepakat Bangun PSEL
Senin, 04 Mei 2026
792
Dinkes DKI Siagakan Posko Kesehatan di Peringatan May Day 2026
Jumat, 01 Mei 2026
1156
Pramono Pastikan Pemprov Hadir Dukung Pembangunan Keluarga