Ini Konsep Penataan Kawasan Wisata Bahari

Sabtu, 02 April 2016 Reporter: Erna Martiyanti Editor: Rio Sandiputra 6710

Ini Konsep Penataan Kawasan Wisata Bahari

(Foto: Ilustrasi)

Penataan kawasan Wisata Bahari, Jakarta Utara segera dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Konsep untuk menampilkan destinasi wisata di lokasi tersebut sudah dibuat.

Kalau ada penataan otomatis daerah itu menjadi terbuka, objek wisata yang ada juga terlihat

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta, Catur Laswanto mengatakan, penataan akan dilakukan secara bertahap. Pertama akan dilakukan relokasi warga ke rusun dan membongkar bangunan-bangunan liar. Karena saat ini akses masuk ke beberapa objek wisata di kawasan tersebut tertutup oleh permukiman liar.

Setelah dilakukan pembongkaran bangunan, akan dipasang sheet pile untuk menahan banjir rob. Mengingat daratan yang ada berada dibawah muka laut.

"Aspek pertama penataan bangunan liar, supaya daerah itu tidak kumuh. Kemudian penurapan sungai untuk menahan banjir rob. Kalau ada penataan otomatis daerah itu menjadi terbuka, objek wisata yang ada juga terlihat," kata Catur, saat dihubungi Beritajakarta.com, Sabtu (2/4).

Ada beberapa objek wisata yang berada di kawasan tersebut, seperti Masjid Luar Batang, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Pasar Ikan, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Semua bangunan tersebut merupakan salah satu bangunan bersejarah. Sehingga bangunan tersebut tidak akan dibongkar.

"Masjid Luar Batang itu sangat bersejarah. Kalau masuk cagar budaya atau tidak harus dicek dulu. Yang pasti masjid tidak diapa-apain," ujarnya. 

Menurut Catur, kawasan tersebut sejak dulu merupakan Wisata Bahari pada zaman kuno. Namun dengan berkembangnya masyarakat beberapa objek wisata tertutup bangunan.

"Dari awal kawasan itu adalah Wisata Bahari zaman kuno. Mula pertamanya orang barat masuk ke Jakarta. Jadi ada nilai sejarah tinggi di situ," katanya.

Dia menambahkan adanya kapal-kapal tradisional pinisi di Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi daya tarik tersendiri. Karena di negara-negera lainnya sudah tidak ditemukan kapal-kapal pinisi tersebut.

"Pelabuhan Sunda Kelapa, itu menarik dilihat dari dua sisi. Pertama merupakan tempat bongkar muat barang. Kedua sampai sekarang kapal-kapal tradisional pinisi masih bisa dilihat, di negara lain tidak lagi ditemukan. Tapi di sana masih ditemukan," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Penataan Kawasan Wisata Bahari Beda dengan Kalijodo

Penataan Kawasan Wisata Bahari Beda dengan Kalijodo

Jumat, 01 April 2016 8608

DKI Siapkan Penataan PKL di Wisata Bahari

DKI Siapkan Penataan PKL di Wisata Bahari

Kamis, 31 Maret 2016 8157

Sosialisasi Larangan Delman di Monas

Sosialisasi Larangan Delman di Monas

Jumat, 01 April 2016 5290

BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7132

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4824

Mobil patah as budi

Petugas Dishub Evakuasi Mobil Patah As Roda di Cengkareng

Senin, 02 November 2026 2076

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2501

Binamarga penertiban kabel udara sunter jakut jati

5,6 Kilometer Kabel Udara di Tanjung Priok Dipindah ke SJUT

Senin, 02 November 2026 1104

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks