Warga Miskin DKI Dijatahi 10 Kubik Air Per Bulan

Kamis, 29 Mei 2014 Reporter: Ari Cleofatra Fernandea Editor: Widodo Bogiarto 6481

kran air hemat jakarta

(Foto: doc)

Untuk menekan pemborosan air bersih yang bisa berdampak pada krisis air di kemudian hari, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengimbau Perusahaan Daerah Air Minum Provinsi DKI Jakarta (PAM Jaya) untuk melakukan kampanye hemat air. Selain itu, mantan anggota Komisi II DPR ini juga menyerukan perusahaan milik DKI itu membatasi pemakaian air untuk warga miskin maksimal 10 kubik per bulannya.

Di Jakarta itu tingkat kebocoran airnya hingga 40 persen. Makanya mulai sekarang masyarakat harus mulai hemat air

"Di Jakarta itu tingkat kebocoran airnya hingga 40 persen. Makanya mulai sekarang masyarakat harus mulai hemat air," kata Basuki di Balai Kota, Rabu (28/5).

Menurut mantan Bupati Belitung Timur ini, penjatahan 10 kubik air per bulan mengacu hasil survei World Health Organization (WHO). Dalam survei itu disebutkan, rata-rata pemakaian air bersih untuk masyarakat miskin atau kurang mampu sebesar 10 kubik per bulan.  

"Sudah ada surveinya dari WHO. Tapi kok rumah tangga miskin, kecil, sederhana, masak pakai 10 - 30 kubik per bulan.  Dijualin, disewa-sewain. Makanya kita mesti teken PAM Palyja untuk kita ambil alih.  Karena kita bisa menyambungkan pipa lebih cepat," ujar Basuki.

Atas temuan pemborosan itu, Basuki sudah menginstruksikan dua pihak swasta yang bekerjasama dengan PAM Jaya agar mulai membatasi pasokan air untuk pelanggannya yang tergolong kurang mampu. Hal ini semata-mata untuk membuat masyarakat disiplin dan menghargai air bersih.

Meski begitu, Basuki tidak menampik apabila ada warga kurang mampu yang mempunyai kebutuhan air bersih lebih dari 10 kubik per bulannya. Namun menurutnya, kalau masyarakat mau membeli lebih dari yang sudah dijatahkan, mereka harus bersedia membayar lebih mahal.

"Warga harus membayar Rp 10 ribu apabila pemakaian di atas 10 kubik per bulan. Sedangkan pemakaian air di bawah takaran itu, tetap harganya Rp 1.050," tegasnya.

Dikatakan Basuki, penetapan harga Rp 10 ribu itu tidak berlebihan dan tergolong cukup murah. Pasalnya, selama ini masyarakat dinilai mampu untuk membeli mahal dari pedagang air gerobak yang harganya mencapai Rp 25 ribu per kubik.

"Masyarakat sekarang beli air Rp 25 ribu  per kubik yang dari gerobak-gerobak itu, lebih mahal lho. Jadi Rp 10 ribu itu tidak mahal. Yang penting mereka ga boros," tandasnya.

BERITA TERKAIT
aetra air minum

Palyja Putus Sambungan Air Ilegal

Jumat, 23 Mei 2014 4440

aetra perusahaan air minum

Uang Jaminan Meteran Air Ditolak Pengelola

Kamis, 22 Mei 2014 4691

instalasi_pengolahan_air_ist.jpg

DKI Masih Krisis Air Baku

Kamis, 24 April 2014 5995

ahok_balkot.jpg

Ahok Minta PDAM Fokus Tangani Kebocoran Air

Rabu, 19 Maret 2014 3616

tengki air pam

Swastanisasi Air, DKI Rugi Hingga Rp 1,1 Triliun

Kamis, 17 April 2014 5381

BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 2930

Pendataan pengadaan tanah MRT kwitang fakhri

Pendataan Awal Pengadaan Tanah MRT Thamrin-Kwitang Dimulai

Sabtu, 19 September 2026 1273

Pemadaman lampu hemat energi dok

Pemprov DKI Ajak Warga Hemat Energi Lewat Aksi 60 Menit Hari Ini

Sabtu, 19 September 2026 504

Kebakaran j65 jelambar jakbar budi

17 Unit Pemadam Tangani Kebakaran di Permukiman Padat Jelambar

Senin, 14 September 2026 1285

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Senin, 14 September 2026 1089

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks