Warga Miskin DKI Dijatahi 10 Kubik Air Per Bulan

Kamis, 29 Mei 2014 Reporter: Ari Cleofatra Fernandea Editor: Widodo Bogiarto 6607

kran air hemat jakarta

(Foto: doc)

Untuk menekan pemborosan air bersih yang bisa berdampak pada krisis air di kemudian hari, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengimbau Perusahaan Daerah Air Minum Provinsi DKI Jakarta (PAM Jaya) untuk melakukan kampanye hemat air. Selain itu, mantan anggota Komisi II DPR ini juga menyerukan perusahaan milik DKI itu membatasi pemakaian air untuk warga miskin maksimal 10 kubik per bulannya.

Di Jakarta itu tingkat kebocoran airnya hingga 40 persen. Makanya mulai sekarang masyarakat harus mulai hemat air

"Di Jakarta itu tingkat kebocoran airnya hingga 40 persen. Makanya mulai sekarang masyarakat harus mulai hemat air," kata Basuki di Balai Kota, Rabu (28/5).

Menurut mantan Bupati Belitung Timur ini, penjatahan 10 kubik air per bulan mengacu hasil survei World Health Organization (WHO). Dalam survei itu disebutkan, rata-rata pemakaian air bersih untuk masyarakat miskin atau kurang mampu sebesar 10 kubik per bulan.  

"Sudah ada surveinya dari WHO. Tapi kok rumah tangga miskin, kecil, sederhana, masak pakai 10 - 30 kubik per bulan.  Dijualin, disewa-sewain. Makanya kita mesti teken PAM Palyja untuk kita ambil alih.  Karena kita bisa menyambungkan pipa lebih cepat," ujar Basuki.

Atas temuan pemborosan itu, Basuki sudah menginstruksikan dua pihak swasta yang bekerjasama dengan PAM Jaya agar mulai membatasi pasokan air untuk pelanggannya yang tergolong kurang mampu. Hal ini semata-mata untuk membuat masyarakat disiplin dan menghargai air bersih.

Meski begitu, Basuki tidak menampik apabila ada warga kurang mampu yang mempunyai kebutuhan air bersih lebih dari 10 kubik per bulannya. Namun menurutnya, kalau masyarakat mau membeli lebih dari yang sudah dijatahkan, mereka harus bersedia membayar lebih mahal.

"Warga harus membayar Rp 10 ribu apabila pemakaian di atas 10 kubik per bulan. Sedangkan pemakaian air di bawah takaran itu, tetap harganya Rp 1.050," tegasnya.

Dikatakan Basuki, penetapan harga Rp 10 ribu itu tidak berlebihan dan tergolong cukup murah. Pasalnya, selama ini masyarakat dinilai mampu untuk membeli mahal dari pedagang air gerobak yang harganya mencapai Rp 25 ribu per kubik.

"Masyarakat sekarang beli air Rp 25 ribu  per kubik yang dari gerobak-gerobak itu, lebih mahal lho. Jadi Rp 10 ribu itu tidak mahal. Yang penting mereka ga boros," tandasnya.

BERITA TERKAIT
aetra air minum

Palyja Putus Sambungan Air Ilegal

Jumat, 23 Mei 2014 4507

aetra perusahaan air minum

Uang Jaminan Meteran Air Ditolak Pengelola

Kamis, 22 Mei 2014 4764

instalasi_pengolahan_air_ist.jpg

DKI Masih Krisis Air Baku

Kamis, 24 April 2014 6078

ahok_balkot.jpg

Ahok Minta PDAM Fokus Tangani Kebocoran Air

Rabu, 19 Maret 2014 3676

tengki air pam

Swastanisasi Air, DKI Rugi Hingga Rp 1,1 Triliun

Kamis, 17 April 2014 5458

BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7149

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4837

Mobil patah as budi

Petugas Dishub Evakuasi Mobil Patah As Roda di Cengkareng

Senin, 02 November 2026 2417

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2543

Binamarga penertiban kabel udara sunter jakut jati

5,6 Kilometer Kabel Udara di Tanjung Priok Dipindah ke SJUT

Senin, 02 November 2026 1213

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks