DKI Dinilai Gagal Dorong Jukir On Street ke Off Street

Jumat, 21 Maret 2014 Reporter: Folmer, Ari Cleofatra Fernandea Editor: Widodo Bogiarto 3949

parkir_on_street.jpg

(Foto: doc)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dinilai gagal mendorong juru parkir (jukir) di badan jalan (on street) ke jukir off street atau parkir dalam gedung.

"Kenapa gagal? Karena kita tidak mau mendorong tukang parkir jalanan jadi tukang parkir di gedung," ujar Basuki T Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Jumat (21/3).

Dikatakan Basuki, kegagalan itu disebabkan gaji yang diterima para jukir off street ternyata hanya setengah hingga satu kali Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI yakni sebesar Rp 2,4 juta per bulan.

Kondisi berbeda dirasakan warga saat masih menjadi jukir jalanan dengan penghasilan sekitar Rp 4-5 juta per bulan. "Sekarang kamu mau nggak biasanya bawa gaji Rp 4-5 juta sebulan, tiba-tiba sekarang kerja penghasilannya turun jadi setengah UMP. Padahal kamu mesti kerja sesuai jam. Kalau tukang parkir jalanan kan seenaknya dia. Dapat duit cukup, kabur saja, nggak pakai jam kerja," kata mantan Bupati Belitung Timur ini.

Alhasil, menurut Basuki, Pemprov DKI, khususnya terhadap penerimaan pendapatan asli daerah (PAD)  mengalami kerugian akibat tingginya kebocoran retribusi parkir on street di ibu kota. "Ibarat kita ngabisin Rp 21 miliar padahal penerimaan kita hanya Rp 20 miliar. Kan lucu. Makanya kita mau bikin sistem parkir mesin," tuturnya.

Mantan anggota DPR ini menjamin tingkat kebocoran retribusi parkir dapat dihilangkan dengan penerapan sistem  parkir meter atau parkir mesin. Pihaknya juga membutuhkan SDM yang handal untuk mengawasi sistem parkir mesin di Jakarta, agar tidak ada kecurangan atau tindakan yang merusak alat parkir meter tersebut.

"Yang kerja ini, juga mesti diperhatikan dong. Saya bilang sama swasta kalau Anda mau sediakan parkir mesin, pembagian dengan kita boleh tapi gaji pegawai Anda nggak boleh satu kali UMP, harus dua kali UMP," ucapnya.

Pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna menyambut positif gagasan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut. Menurutnya, optimalisasi pendapatan daerah dari sektor parkir adalah sebuah langkah gemilang jika tata pengelolaannya diterapkan dengan maksimal. Terlebih, kata Yayat, sektor parkir merupakan sektor emas yang harus dioptimalkan di ibu kota.

Dikatakan Yayat, pihaknya membenarkan data yang disebutkan Wagub Basuki T Purnama mengenai jumlah pendapatan juru parkir (jukir) yang per hari mencapai Rp 100-150 ribu. Meski begitu, kata Yayat, sistem ini masih memiliki celah kebocoran. Untuk itu, Pemprov DKI harus menawarkan MoU dengan pihak swasta dan organisasi terkait agar tidak terjadi penyelewengan.  "Yang jelas harus diadakan negosiasi dan MoU. Juru parkir yang ditunjuk pun harus merupakan perwakilan dari organisasi," ujar Yayat.

Untuk mekanismenya sendiri, Yayat menawarkan untuk diterapkannya sertifikasi yang dikelola oleh pihak swasta yang mempekerjakan organisasi terkait serta diberikan PIN atau nomor kepegawaian. "Untuk sistem pengawasan, masing-masing pihak pengelola harus sepakat untuk melalukan sistem pengawasan elektronik mulai dari CCTV dan bukti pembayaran yang dapat berupa karcis dan semacamnya," tandasnya.




BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7045

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4680

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2212

Jrf2026 rezap

Jakarta Running Festival Berpotensi Terus Berkembang

Selasa, 27 Oktober 2026 2211

Pengprov akuatik dki jakarta rezap

Pramono Bidik Juara Umum PON 2028, Akuatik Jadi Andalan

Kamis, 29 Oktober 2026 1761

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks