Jumat, 06 November 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 158
(Foto: Istimewa)
Testo Gumilar, warga Cibubur, Jakarta Timur membuktikan bahwa kesempatan untuk kembali bekerja dan tetap produktif tidak mengenal batas usia.
Pria berusia 60 tahun ini sempat pesimistis saat mengikuti seleksi Program Padat Karya Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta karena bersaing dengan peserta yang lebih muda.
"mendapat kesempatan tanpa melihat usia,"
Berbekal pengalaman mengelola bank sampah sejak 2024, Testo berhasil lolos seleksi dan mendapat kesempatan memperoleh penghasilan sekaligus melanjutkan kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia kini bertugas sebagai petugas pemilah sampah di Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.
“Awalnya saya pesimis bisa diterima karena melihat banyak anak muda yang ikut. Saya berpikir, di usia 60 tahun apakah masih ada kesempatan? Tapi alhamdulillah, melalui program ini saya mendapat kesempatan tanpa melihat usia,” ujar Testo, Jumat (6/11).
Sejak 2024, Testo aktif dalam kegiatan Bank Sampah Asri Berseri di RW 11, Kelurahan Cibubur. Keterlibatannya kemudian mengantarkannya dipercaya menjadi ketua bank sampah.
Testo semakin mengenal pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah dari kegiatan bersama warga. Ia ingin lebih banyak orang memahami bahwa kebiasaan mengurus sampah dapat dimulai dari rumah masing-masing. Karena itu, pekerjaan sebagai pemilah sampah terasa dekat dengan pengalaman dan minat yang selama ini Ia tekuni.
Kesempatan tersebut juga datang ketika Testo masih memikul tanggung jawab sebagai penopang ekonomi keluarga. Istrinya merupakan ibu rumah tangga, sementara anaknya telah menyelesaikan pendidikan dan sedang mencari pekerjaan. Setelah tidak lagi bekerja, Testo tetap berupaya mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Alhamdulillah, keluarga mendukung. Karena saya sudah tidak bekerja, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Dapur juga harus tetap ngebul. Jadi, saya ingin mendapatkan penghasilan yang halal sekaligus sesuai dengan passion saya di bidang lingkungan,” ungkapnya.
Penghasilan yang kelak diterimanya sudah memiliki tujuan yakni, memenuhi kebutuhan makan, membayar listrik, dan mencukupi keperluan sehari-hari. Hal-hal itulah yang membuat kesempatan kembali bekerja terasa berarti bagi Testo dan keluarganya.
Testo berharap, manfaat program ini juga tumbuh melalui pengetahuan yang dibawa para peserta ke lingkungan tempat tinggalnya. Ia ingin semakin banyak warga memperoleh kesempatan ikut serta, termasuk mereka yang belum mengenal cara memilah dan mengolah sampah.
“Pesan saya, jangan cepat putus asa. Di Pemda DKI ada program-program yang bisa dimanfaatkan, salah satunya Padat Karya ini. Alhamdulillah, masih ada perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup bagi warga yang ingin tetap beraktivitas dan membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.
Program Padat Karya yang dijalankan Dinas Lingkungan Hidup menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung untuk membuka kesempatan kerja dan membantu perekonomian warga.
Melalui kegiatan pengelolaan sampah, peserta memperoleh pekerjaan dengan upah harian sekaligus terlibat dalam kegiatan pengelolaan sampah kota.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, program ini mempertemukan kebutuhan masyarakat akan kesempatan kerja dengan kebutuhan pengelolaan lingkungan. Selain memperoleh penghasilan, peserta diharapkan membawa pulang pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap pengalaman yang diperoleh peserta selama mengikuti program ini dapat menumbuhkan kepedulian dan kebiasaan baik dalam mengelola sampah,” katanya.