Selasa, 27 Oktober 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 82
(Foto: Istimewa)
Inaugurasi Kampung Budaya Rawa Belong yang diinisiasi Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta pada Sabtu (24/10) berlangsung meriah. Kegiatan ini dikemas sebagai perayaan seni dan budaya Betawi dengan melibatkan sanggar, komunitas, dan pelaku seni budaya setempat.
Inaugurasi Kampung Budaya Rawa Belong juga merupakan tindak lanjut dari rangkaian kajian, riset, dan pendampingan pengembangan Kampung Budaya yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta pada 2022–2024.
"memperkenalkan potensi seni dan budaya Betawi,"
Rangkaian kegiatan tersebut bertujuan mengidentifikasi potensi, memetakan karakteristik, serta merumuskan arah pengembangan Kampung Budaya di DKI Jakarta.
Hasil kajian mengidentifikasi lima wilayah yang memiliki potensi sebagai episentrum Kampung Budaya di DKI Jakarta, yaitu Rawa Belong di Jakarta Barat, Marunda di Jakarta Utara, Tanah Abang di Jakarta Pusat, Petukangan di Jakarta Selatan, dan Condet di Jakarta Timur.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary mengatakan, inaugurasi Rawa Belong merupakan bentuk aktivasi hasil kajian pengembangan Kampung Budaya melalui kegiatan berbasis seni dan budaya Betawi.
“Inaugurasi Kampung Budaya Rawa Belong menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi seni dan budaya Betawi yang tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya, Selasa (27/10).
Ia menjelaskan, Rawa Belong memiliki sejumlah karakteristik yang mendukung potensinya sebagai kawasan budaya, antara lain identitas wilayah yang kuat dan mudah dikenali, nilai simbolik sebagai representasi budaya Betawi, serta keberadaan komunitas dan sanggar budaya yang aktif berkegiatan.
Selain itu, tokoh budaya, aktivitas seni tradisi, dan pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan bersama turut menjadi bagian dari karakteristik budaya Rawa Belong.
Miftah menambahkan, Inaugurasi Kampung Budaya Rawa Belong 2026 melibatkan 10–15 sanggar, sekitar 100 pelaku seni budaya, serta dihadiri sekitar 400 tamu dan undangan.
“Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi sanggar, komunitas, dan pelaku seni budaya untuk menampilkan kekayaan tradisi yang menjadi identitas kawasan,” tandasnya.