Rabu, 21 Oktober 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 189
(Foto: Nugroho Sejati)
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, optimistis perhelatan Jakarta Film Summit 2026 yang dilaksanakan sejak Selasa (20/10) hingga Rabu (21/10) di The Royal Glasshouse Park Hyat, Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, akan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Jakarta.
"Forum ini mempertemukan lebih dari 500 peserta mulai dari insan perfilman, pelaku industri, investor, hingga mitra internasional untuk membuka ruang kolaborasi dan memperkuat ekosistem perfilman di Asia Tenggara," ujar Rano, Rabu (21/10).
Membuka peluang investasi
Dilanjutkan Rano, selama kegaitan terdapat 40 pembicara dari 10 negara tampil membahas berbagai isu, mulai dari kolaborasi internasional, kemudahan perizinan hingga peluang pembiayaan film skala global.
Karena itu, menurut Rano, Pemprov DKI Jakarta bersama Jakarta Film Commission melalui Jakarta Film Summit 2026, berupaya memperluas peluang produksi serta memperkuat peran kota dalam industri perfilman nasional.
"Jakarta Film Summit 2026 juga membuka peluang investasi, kolaborasi internasional, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Jakarta," tambahnya.
Diakui Rano, banyak output dari kegiatan ini yang diharap bisa mendongkrak ekonomi kreatif Jakarta. Namun diakuinya, semua itu membutuhkan proses yang tidak sebentar dan akan terus berkembang.
"Seperti Jakarta Film Commission yang saat ini telah terbentuk memiliki tujuan filming in Jakarta, yaitu membantu pengurusan siapapun mau syuting di Jakarta. Tapi ke depan, bisa saja Jakarta Film Commision berkembang menjadi lembaga funding yang memberikan bantuan keuangan untuk produksi film," bebernya.
Lalu mengenai pengembangan Jakarta sebagai kota sinema, Rano menyebut pihaknya telah melakukan MoU dengan Netflix untuk syuting film di Jakarta pada tahun mendatang. Selain dalam kegaitan Jakarta Film Summit juga dilakukan penandatanganan MoU kerjasama dengan produser film dari Turki.
"Ini menarik bagi sebuah kerja sama dan insyaallah kita akan membuat film bersama-sama antara Turki dengan Jakarta," tegasnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan menambahkan, industri film menciptakan peluang ekonomi yang jauh lebih luas dari sekadar hiburan.
"Dampak ekonominya mampu menjangkau sektor transportasi, perhotelan, makanan dan minuman, pariwisata, teknologi digital, hingga UMKM lokal," ungkap Iwan.
Industri film nasional, menurut Iwan, juga menunjukkan prospek yang semakin menjanjikan, dimana beberapa film yang sukses, mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi dan melibatkan banyak kreator lokal.
Capaian tersebut, menurut Iwan, menunjukkan bahwa industri kreatif berbasis kekayaan intelektual, seperti film, mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan sekaligus membuka peluang kerja bagi talenta film nasional.
Sebagai puncak kegiatan JFS x JEF 2026, telah dihasilkan kesepakatan bersama seluruh pemangku kepentingan terkait melalui Joint Communiqué yang memuat action plan penguatan industri perfilman di Jakarta pada tiga prioritas.
Pertama, memperluas akses pembiayaan, termasuk melalui skema yang memanfaatkan nilai ekonomi kekayaan intelektual.
Prioritas kedua, mendorong penyederhanaan proses perizinan produksi film agar Jakarta semakin kompetitif sebagai lokasi produksi.
Sedangkan prioritas yang ketiga,nmemperkuat ekosistem dan basis data industri perfilman sebagai landasan pengambilan kebijakan, pengembangan bisnis, dan perluasan investasi.
"Sebagai bentuk komitmen terhadap tindak lanjut Joint Communiqué, dilakukan penandatangan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta, serta seluruh peserta forum JEF Policy Lab pada Closing Ceremony JFS x JEF 2026," tandasnya.