Selasa, 20 Oktober 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 244
(Foto: Anita Karyati)
Warga di Kelurahan Pulau Panggang diedukasi tentang program gerakan pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumbernya di Ruang Pola Kantor Kabupaten Kepulauan Seribu.
"Butuh kolaborasi nyata"
Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan mengatakan, gerakan pilah sampah harus diwujudkan melalui aksi konkret seluruh elemen, bukan sekadar slogan seremonial.
Ia memproyeksikan Kepulauan Seribu menjadi wilayah percontohan, diawali dengan Pulau Pramuka sebagai prototipe pulau zero waste.
"Saya tidak ingin gerakan ini hanya slogan tanpa realisasi. Kita harus saling mendukung. Pengelolaan sampah butuh kolaborasi nyata dari rumah tangga hingga tempat penampungan," ujarnya, Selasa (20/10).
Fadjar meminta instansi teknis gencar mengedukasi nilai ekonomis dari sampah anorganik terpilah, seperti botol plastik dan kemasan daur ulang.
"Jangan hanya menyuruh memilah, beri tahu juga nilai jualnya. Jika tahu ada potensi pendapatan tambahan, warga pasti lebih termotivasi. Lingkungan bersih terwujud, manfaat ekonomi juga didapat," terangnya.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Kepulauan Seribu, Achmad Hariadi menjelaskan, keberlanjutan pemilahan dari hulu sangat menentukan efektivitas pengolahan sampah di hilir.
Untuk mempertajam pemahaman peserta, Sudin LH menghadirkan Anto (Bang Jos) dari komunitas Indonesia Menuju Hijau (IMH).
"Edukasi dan pendampingan kepada petugas serta masyarakat menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan pengelolaan sampah dari sumbernya," ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut turut diisi dengan peninjauan teknis ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka guna memastikan optimalisasi operasional di lapangan.
Sementara itu, salah seorang warga Kelurahan Pulau Panggang, Yuni (46) mengaku tergerak untuk menerapkan materi yang didapat ke dalam keseharian.
"Kami jadi paham bahwa sampah bernilai ekonomi jika dipilah dengan benar," tandasnya.