Kamis, 15 Oktober 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 155
(Foto: Budhi Firmansyah Surapati)
Suku Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Kominfotik) Jakarta Barat, Kamis (15/10), menggelar sosialisasi Ngobrol Statistik (Ngorbit) bertema “Cerdas Membaca Data, Memahami Statistik di Era Digital”, secara daring.
Kegiatan diikuti 571 peserta yang terdiri dari aparatur sipil negera (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Barat dan masyarakat.
Bahas statistik dengan lebih ringan
Kepala Seksi Aplikasi dan Statistik (Astik) Suku Dinas Kominfotik Jakarta Barat, Nur Izzuddin menjelaskan, kegiatan yang menghadirkan narasumber Presiden Data Science Indonesia, Nabil Muhsin Bajri, dikemas dalam bentuk diskusi ringan tentang pentingnya membaca, memahami, dan memanfaatkan data statistik secara tepat di tengah pesatnya perkembangan informasi digital.
“Melalui Ngorbit, kita mencoba membahas statistik dengan lebih ringan agar materi statistik yang selama ini dianggap rumit dapat lebih mudah dipahami masyarakat,” ujarnya.
Menurut Izzuddin, pemahaman statistik semakin penting di era digital karena masyarakat setiap hari terpapar berbagai data dan grafik yang beredar melalui media sosial, situs web, maupun platform digital lainnya.
Namun, lanjut Izzuddin, tidak semua informasi yang disajikan berdasarkan sumber terpercaya atau menggambarkan kondisi sebenarnya. Bahkan, perubahan skala pada grafik dapat memengaruhi cara pembaca menafsirkan suatu data.
Ia mengimbau masyarakat perlu lebih cermat dalam memeriksa sumber dan cara penyajian data, sebelum menggunakannya sebagai dasar untuk menarik kesimpulan.
“Jangan langsung percaya terhadap data-data yang tersebar di dunia digital. Perlu diverifikasi kembali, apakah berasal dari sumber resmi dan apakah cara penyajiannya sudah sesuai kaidah, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman atau kesimpulan yang keliru,” paparnya.
Ia menambahkan, pemahaman tersebut sejalan dengan pentingnya penerapan prinsip Satu Data, yakni penggunaan data yang telah diverifikasi dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai acuan informasi.
Dia menambahkan, jumlah peserta yang mencapai 571 orang menunjukkan bahwa pembahasan statistik tetap mendapat perhatian meskipun materinya dinilai cukup kompleks.
"Kami berharap wawasan ASN dan masyarakat mengenai literasi data semakin meningkat, sehingga mereka mampu memahami informasi statistik secara kritis dan menghindari kesalahan dalam menafsirkan data di era digital," tandasnya.