Senin, 05 Oktober 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 356
(Foto: Istimewa)
RSUD Cengkareng memperkuat program SIGAP (Sinergi, Cepat, dan Tanggap) Ibu dan Bayi Baru Lahir melalui kegiatan sosialisasi yang melibatkan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan di Jakarta Barat, Senin (5/10).
Sosialisasi tersebut diikuti 44 peserta yang terdiri dari dokter dan bidan dari Puskesmas, rumah sakit jejaring, serta bidan praktik mandiri di wilayah Jakarta Barat. Kegiatan juga menghadirkan narasumber dari bidang obstetri dan ginekologi, dokter anak, serta dokter intensivis.
"dalam menyelamatkan nyawa ibu dan buah hati,"
Direktur RSUD Cengkareng, Lysbeth Regina Pandjaitan mengatakan, program SIGAP merupakan penguatan layanan respons cepat selama 24 jam untuk menangani kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir.
Ia menyampaikan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan rujukan dan respons cepat terhadap kondisi kegawatdaruratan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, serta bayi baru lahir.
Lysbeth menjelaskan, program SIGAP sebenarnya telah berjalan sejak 2020 dan terus diperkuat serta dipertajam. Salah satu keunggulan layanan di RSUD Cengkareng adalah ketersediaan dokter secara on-site atau berada di rumah sakit selama 24 jam.
Ia mengatakan, PONEK merupakan pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif yang ditujukan untuk menangani kondisi kegawatdaruratan pada ibu dan bayi baru lahir. RSUD Cengkareng sebagai rumah sakit rujukan tipe B memiliki fasilitas pendukung, antara lain NICU, PICU, dan HCU Maternal.
“Jadi kita rumah sakit PONEK yang upaya untuk menurunkan kematian ibu dan bayi. Kita mempunyai dokter on-site yang siap menolong. Dokter kebidanan, dokter anak, dan dokter anestesi. Jadi kalau ada kegawatdaruratan, kita tidak terlambat untuk menangani,” ujarnya, di RSUD Cengkareng, Cengkareng Timur, Jakarta Barat.
Dalam sosialisasi tersebut, RSUD Cengkareng juga menekankan pentingnya penguatan jejaring rujukan. Lysbeth menyampaikan penguatan jejaring diperlukan agar fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki kepastian dan kepercayaan ketika harus merujuk pasien dalam kondisi gawat darurat.
“Karena mungkin mereka bingung mau kirim ke mana. Kalau kita adakan sosialisasi, mereka yakin, mereka percaya kepada RSUD. Bahwa ketika mereka mengirim pasien-pasien ibu hamil dan bayi baru lahir yang dalam keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani, mereka percaya kepada dokternya, fasilitasnya, alur rujukannya dan fasilitas kesehatan yang ada di RSUD Cengkareng,” jelasnya.
Ia menuturkan, program SIGAP juga dilatarbelakangi masih perlunya penguatan upaya untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Jakarta Barat maupun DKI Jakarta. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah adanya keterlambatan dalam mengenali kondisi bahaya, mendapatkan layanan kesehatan, hingga memperoleh penanganan di fasilitas kesehatan.
Ia menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan konsep ‘3 Terlambat’, yakni terlambat mengenali tanda bahaya dan memutuskan mencari pertolongan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan, serta terlambat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
Selain itu, terdapat pula faktor ‘4 Terlalu’, yakni terlalu muda saat hamil, terlalu tua, jarak kehamilan terlalu dekat, serta terlalu banyak memiliki anak.
“Dasar itulah ‘3 Terlambat’ dan ‘4 Terlalu’ ini kita meluncurkan program SIGAP,” ucapnya.
Ia menjelaskan, unsur Sinergi dalam SIGAP diwujudkan melalui kerja sama RSUD Cengkareng dengan Puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, rumah sakit jejaring, hingga rumah sakit swasta.
Sementara unsur Cepat diwujudkan melalui kesiapan dokter dan fasilitas selama 24 jam.
Adapun unsur Tanggap diarahkan tidak hanya kepada tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat. Melalui jejaring Puskesmas, masyarakat diharapkan semakin memahami tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan bayi baru lahir sehingga dapat segera mencari pertolongan medis.
“Tanggapnya itu kita ke level masyarakat juga melalui Puskesmas. Tentunya peran ke masyarakat lebih banyak Puskesmas, tetapi kita ikut mengambil peran juga rumah sakit supaya masyarakat tahu dan tanggap, sehingga dia tahu tanda bahayanya apa dan tanggap cepat datang ke rumah sakit, sehingga tidak terjadi keterlambatan,” ungkapnya.
Selain penanganan kegawatdaruratan, program SIGAP juga mencakup pemantauan kondisi ibu dan bayi setelah persalinan serta dukungan laktasi. Layanan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi ibu dan bayi tetap terpantau setelah melewati masa persalinan, sekaligus mendukung pemberian ASI dan kesehatan bayi sejak awal kehidupan.
Melalui sosialisasi tersebut, RSUD Cengkareng menegaskan komitmennya untuk memperkuat koordinasi lintas fasilitas kesehatan sekaligus memastikan jalur rujukan bagi ibu dan bayi dalam kondisi kegawatdaruratan dapat berjalan cepat dan tepat.
Lysbeth berharap, penguatan program SIGAP dapat mendukung upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir serta memberikan dukungan terhadap upaya pencegahan stunting sejak awal kehidupan.
“Setiap detik sangat berharga dalam menyelamatkan nyawa ibu dan buah hati. Melalui SIGAP Ibu dan Bayi Baru Lahir, kami memperkuat koordinasi respons cepat, standardisasi tata laksana klinis, dan kolaborasi multidisiplin. Kami memastikan tidak ada jeda dalam memberikan pertolongan terbaik karena keselamatan pasien adalah prioritas mutlak kami,” tandasnya.