Pengelolaan Sampah Kolaboratif di RW 06 Jagakarsa Jadi Percontohan

Senin, 28 September 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 185

RW 06 Srengseng Sawah Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif

(Foto: Tiyo Surya Sakti)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat pengelolaan sampah dari sumber dengan membangun sistem yang memastikan sampah tidak hanya dipilah dari rumah, tetapi juga dikumpulkan, diangkut, dan diolah secara terpisah sesuai jenisnya.

"Memperkuat pengelolaan dari sumber"

Upaya tersebut diterapkan melalui Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dalam program ini, lebih dari 400 rumah mendapatkan edukasi dan pendampingan secara door to door, sekaligus dukungan sarana pemilahan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, pengelolaan sampah di Jakarta diarahkan untuk mengubah paradigma dari pola kumpul, angkut, dan buang menjadi pengelolaan yang dimulai sejak dari sumber.

"Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di hilir. Kita harus memperkuat pengelolaan dari sumber agar sebanyak mungkin sampah dapat dipilah dan diolah sebelum masuk ke tempat pemrosesan akhir. Untuk itu, yang kami dorong bukan hanya gerakan memilah, tetapi pembangunan sistem pilah, angkut, dan olah yang utuh," ujarnya, Senin (28/9).

Dudi menjelaskan, program tersebut merupakan bagian dari Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Lingkungan Hidup Klaster Persampahan dan sejalan dengan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

Menurutnya, partisipasi masyarakat harus didukung dengan sistem yang konsisten. Sampah yang sudah dipilah di rumah tidak boleh kembali tercampur dalam proses pengumpulan maupun pengangkutan.

"Pemerintah harus memastikan ada kesinambungan dari rumah, pengumpulan, pengangkutan, sampai pengolahan. Pilot project ini kami harapkan menjadi model yang dapat dievaluasi, diperbaiki, dan secara bertahap dikembangkan di wilayah lain," terangnya.

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari menambahkan, penerapan program di RW 06, Kelurahan Srengseng Sawah dirancang agar pemilahan tidak berhenti pada tahap edukasi, tetapi terhubung langsung dengan sistem pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan.

"Kita ingin bangun di lapangan adalah rantai pengelolaan yang jelas. Warga memilah dari rumah, sampah dikumpulkan secara terpisah, diangkut secara terpilah, kemudian diarahkan ke fasilitas pengolahan sesuai jenisnya," ucapnya.

Purwanti memapatkan, sebagai bentuk dukungan fasilitas bagi warga kelas menengah ke bawah, pihaknya menyediakan ember khusus di setiap rumah untuk memisahkan sampah organik. Sampah organik tersebut nantinya diangkut berdasarkan jadwal penjemputan berkala yang telah diatur secara sistematis.

Selain itu, Pemprov DKI menyediakan sejumlah titik drop point di sekitar gang. Sampah dari titik tersebut nantinya diakses atau dibawa langsung oleh petugas pengangkut sampah atau pengemudi gerobak.

"Kawasan Jagakarsa dipilih sebagai pilot project karena tingkat pemilahan sampahnya masih tergolong rendah, meskipun kesadaran warga dan pengurus RT/RW setempat dinilai cukup tinggi," bebernya.

Purwanti menuturkan, sistem di RW 06, Kelurahan Jagakarsa juga dikembangkan melalui pendekatan co-design dengan melibatkan warga, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan perguruan tinggi. 

Pendekatan tersebut dilakukan agar pola pengelolaan yang dibangun sesuai dengan karakter serta kebutuhan lingkungan setempat dan dapat berjalan secara berkelanjutan.

"Pilot project ini menjadi pembelajaran untuk membangun sistem yang konsisten dari hulu sampai pengolahan," ucapnya.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jakarta Selatan, Iwan Santoso menyampaikan, praktik pemilahan sampah dari sumber terus diperluas. 

"Saat ini, sekitar 21.000 rumah di Jakarta Selatan telah menjalankan pemilahan sampah dari sumber, didukung berbagai sarana pengolahan organik seperti biopori jumbo dan teba modern," imbuhnya.

Melalui pendampingan langsung dari rumah ke rumah, lanjut Iwan, masyarakat dapat melihat sekaligus mempraktikkan bagaimana pemilahan dilakukan. 

"Sampah organik yang sebelumnya dibuang juga dapat diolah menjadi kompos maupun media tanam yang bermanfaat bagi lingkungan," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Pilah sampah kep seribu anita

Pramuka Kepulauan Seribu Pilah Sampah di Kawasan Jembatan Cinta

Jumat, 25 September 2026 409

Pembuangan Sampah Dua RW di Petojo Utara Ditutup Dialihkan ke TPS 3R

Pembuangan Sampah Dua RW di Petojo Utara Dialihkan ke TPS 3R

Jumat, 25 September 2026 226

IMG 20260918 WA0089

Inovasi Pengelolaan Sampah Gandaria Utara Diapresiasi Tim Verlap AMPL

Jumat, 18 September 2026 487

BERITA POPULER
PMI Jaksel CFD HI tiyo

Peserta HBKB Diedukasi Pencegahan DBD

Minggu, 27 September 2026 1224

895 Guru PPPK Jakut dan Kepulauan Seribu Perpanjang Kontrak Kerja

Kontrak Kerja 895 Guru PPPK di Jakut dan Kepulauan Seribu Diperpanjang

Senin, 28 September 2026 806

Hbkb rasuna said bilal

Uji Coba HBKB Dua Kali Sepekan Diminta Terbatas

Kamis, 24 September 2026 1208

Penataan Kawasan Unggulan Ciracas nur

Penataan Kawasan Unggulan di Ciracas Usung Konsep Penghijauan Lingkungan

Jumat, 25 September 2026 931

Dany ramdany

Pemkot Jakpus Jamin Pengadaan Tanah Proyek MRT Thamrin - Kwitang Dilakukan Terbuka

Kamis, 24 September 2026 1045

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks