Selasa, 22 September 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Andry 167
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Selatan menyalurkan kepedulian melalui aksi kemanusiaan dengan memberikan edukasi kesehatan kepada anak-anak penyintas bencana di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketua PMI Jakarta Selatan, Mundari mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai upaya strategis meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kesehatan di tengah kondisi lingkungan yang mengalami perubahan pascabencana.
"Edukasi terkait pencegahan dan penanganan dini diare,"
"Rangkaian kegiatan tersebut telah berlangsung sejak 15 September 2026 di sejumlah titik lokasi prioritas. Salah satunya dipusatkan di Desa Aeramo dan Sekolah Dasar Kristen (SDK) Wolorae, Kecamatan Aesesa," ujarnya, Selasa (22/9).
Mundari menjelaskan, pelaksanaan program promosi kesehatan ini terlaksana berkat dukungan penuh dari berbagai lembaga internasional dan mitra gerakan kemanusiaan global. Di antaranya, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), International Committee of the Red Cross (ICRC)
"Kemudian, kita juga hadir bersama Palang Merah Australia, Palang Merah Amerika, dan Palang Merah Jepang," katanya.
Dalam operasional di lapangan, lanjut Mundari, program ini melibatkan sinergi antara relawan PMI lokal serta relawan spesialis yang didatangkan khusus dari berbagai wilayah, termasuk Provinsi DKI Jakarta dan Bali.
Mundari menyebut, materi edukasi dirancang secara komprehensif untuk mencegah lonjakan penyakit pascabencana. Beberapa topik utama yang disampaikan meliputi, Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), praktik enam langkah cuci tangan yang benar menggunakan sabun, kewaspadaan terhadap Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan pencegahan rabies.
"Yang juga sangat penting, kita juga berikan edukasi terkait pencegahan dan penanganan dini diare, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta Demam Berdarah Dengue (DBD)," ungkapnya.
Ia menambahkan, agar mudah dicerna anak-anak dan para relawan menggunakan metode edukasi yang menyenangkan dan interaktif. Penyampaian materi dikemas melalui media nyanyian, permainan dadu edukatif, hingga praktik langsung di lapangan.
Mundari menekankan, situasi pascabencana selalu membawa kerentanan tersendiri karena risiko munculnya berbagai penyakit meningkat secara signifikan. Anak-anak menjadi kelompok prioritas utama karena mereka tetap aktif belajar, bermain, dan berinteraksi di lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.
Oleh karena itu, penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada distribusi logistik semata, melainkan juga pembangunan ketahanan kesehatan melalui edukasi kebiasaan hidup bersih.
"Melalui promosi kesehatan ini, anak-anak diajak untuk melihat, mengingat, memahami, dan mempraktikkan PHBS dalam keseharian," tandasnya.