Jumat, 18 September 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 136
(Foto: Istimewa)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) mendorong penguatan ekosistem pangan sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi melalui penyelenggaraan Asia Food & Ecosystem Summit dalam rangkaian Jakarta International Investment, Trade, Tourism & SMEs Expo (JITEX) 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, Jakarta Pusat.
Asia Food & Ecosystem Summit menghadirkan dua sesi diskusi yang mengangkat tema ‘Food as an Economic Engine: From Food Security to Economic Growth’ dan ‘From Farm to Shelf: Creating Value Across the Food Ecosystem’.
"Dibutuhkan kolaborasi dari hulu hingga hilir,"
Kedua sesi tersebut membahas penguatan ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi pertanian, pengembangan teknologi, penguatan rantai pasok, distribusi, hingga perluasan akses pasar dan peluang kolaborasi internasional.
Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, asosiasi, BUMD, pelaku usaha, serta mitra internasional untuk membahas sektor pangan tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan usaha, meningkatkan daya saing produk, serta membuka peluang perdagangan dan investasi.
Ketua Umum Asian Trade, Tourism, and Economics Council (ATTEC) sekaligus Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Budihardjo Iduansjah mengatakan, penyelenggaraan Asia Food & Ecosystem Summit merupakan bagian dari inisiatif ATTEC untuk memperluas forum kolaborasi di sektor pangan dan ekosistemnya.
Menurutnya, sektor makanan dan minuman memiliki peran penting dalam aktivitas perdagangan dan ritel di Indonesia.
“Karena itu, pengembangan sektor tersebut perlu didukung melalui forum yang mempertemukan pelaku usaha, investor, serta mitra dari berbagai negara sehingga dapat membuka peluang kerja sama dan ekspor produk Indonesia,” ujarnya, Jumat (18/9).
Ia menyampaikan, ATTEC telah mengembangkan berbagai forum di kawasan Asia selama tiga tahun terakhir, termasuk forum yang diselenggarakan di Guangzhou, Cina. Ke depan, jejaring tersebut akan terus diperluas, termasuk melalui rencana penyelenggaraan forum di Shenzhen pada November mendatang.
Ia berharap dukungan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat agar berbagai forum internasional yang mempertemukan pelaku usaha, investor, dan mitra bisnis dapat berkembang.
“Sehingga menjadi kegiatan yang memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian Indonesia, khususnya sektor pangan dan industri makanan dan minuman,” katanya.
Kepala Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo menjelaskan, melalui Asia Food & Ecosystem Summit, JITEX 2026 menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, pelaku industri, asosiasi, BUMD, petani, pelaku usaha, serta mitra internasional untuk membangun peluang kerja sama yang lebih konkret.
Menurutnya, kolaborasi tersebut mencakup peluang kemitraan usaha, investasi, pengembangan teknologi, hubungan buyer-seller, hingga pembukaan akses pasar baru.
Ia mengatakan, rangkaian pembahasan dalam dua sesi Asia Food & Ecosystem Summit menunjukkan bahwa penguatan sektor pangan membutuhkan keterhubungan yang kuat antara sektor hulu dan hilir.
“Penguatan ekosistem pangan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi dari hulu hingga hilir, mulai dari petani, pelaku industri, distributor, peritel, pemerintah, hingga mitra internasional,” katanya.
Ratu menjelaskan, peningkatan produksi perlu diikuti dengan penguatan kualitas, pengolahan, logistik, distribusi, akses pasar, teknologi, serta kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan konsumen dan pasar internasional.
Ia berharap, melalui forum seperti Asia Food & Ecosystem Summit, Jakarta dapat menjadi ruang bertemunya berbagai kepentingan tersebut untuk membangun kolaborasi, memperluas akses pasar, dan menciptakan nilai tambah bagi pelaku usaha.
“Melalui JITEX 2026, Pemprov DKI Jakarta terus mendorong terciptanya konektivitas antara pelaku usaha, pasar, investasi, teknologi, dan jejaring internasional sehingga Jakarta dapat semakin berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi yang terkoneksi dengan pasar global,” tandasnya.