Kamis, 20 Agustus 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 180
(Foto: Istimewa)
KONI DKI Jakarta memastikan pembinaan sepak bola ibu kota tetap berjalan meski cabang olahraga tersebut belum masuk dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) tahun ini. Sejumlah langkah juga telah disiapkan untuk menghadapi babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) berikutnya.
Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI DKI Jakarta, Andri Paranoan mengatakan, pembinaan prestasi sepak bola tidak dapat dilihat hanya dari satu aspek, termasuk persoalan status kepemimpinan organisasi.
"Pelatda-nya tetap jalan, pelatihannya tetap jalan,"
Menurutnya, terdapat sejumlah variabel yang menentukan prestasi olahraga, mulai dari latihan, dukungan, kebijakan, hingga penerapan sport science, nutrisi, dan sport medicine.
Ia menyampaikan, pembinaan sepak bola di Jakarta tetap berjalan meskipun Asprov PSSI DKI Jakarta masih berstatus pelaksana tugas (Plt). Pada persiapan PON 2024, KONI DKI bahkan membentuk tim pendampingan Pelatda untuk cabang olahraga sepak bola dan futsal.
“Jadi, terkait dengan pembinaan prestasi sepak bola di Jakarta, memang ini variabelnya banyak. Jadi bukan hanya satu sisi saja, tapi banyak sisi yang harus dilihat. Pelatda-nya tetap jalan, pelatihannya tetap jalan, dukungannya tetap jalan,” ujarnya, Kamis (20/8).
Menurutnya, capaian sepak bola Jakarta pada PON 2024 juga tidak hanya dapat dilihat dari hasil tim putra. Sepak bola putri berhasil meraih medali perak pada PON 2024, demikian pula dengan futsal yang berada dalam pembinaan PSSI meraih medali perak.
“Memang orang melihat bicara PSSI ya sepak bola putra saja. Nah, memang waktu kemarin itu sepak bola putra persiapannya dibilang tidak lama, tidak cukup berlatih, dan tryout-nya juga kurang,” katanya.
Andri menjelaskan, untuk menghadapi PON berikutnya, perhatian juga diarahkan pada tahapan babak kualifikasi. Menurutnya, lolos dari babak kualifikasi menjadi syarat utama sebelum berbicara mengenai target di PON.
“Tahun ini strateginya kita juga kalau bisa babak kualifikasi kita ambil tuan rumah lagi. Sebelum main ke PON kan harus main babak kualifikasi dulu. Kita enggak bakal bisa bicara di PON kalau babak kualifikasinya enggak lolos,” tuturnya.
Terkait belum masuknya sepak bola dalam program Pelatda DKI Jakarta tahun ini, Andri menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan kebijakan prioritas program dan kemampuan anggaran KONI DKI.
Ia menyebut KONI DKI saat ini menerapkan pendekatan yang lebih berorientasi pada anggaran dalam menentukan cabang olahraga dan atlet yang masuk program Pelatda. Kondisi tersebut membuat tidak seluruh cabang olahraga dapat langsung masuk dalam program Pelatda.
“Tapi kenyataan yang terjadi saat ini bukan hanya di Jakarta, hampir di semua provinsi bahkan di pemerintahan pusat, pengelolaan olahraga itu adalah budget oriented,” ucapnya.
Andri menjelaskan, DKI Jakarta sebenarnya langsung mempersiapkan program menuju PON 2028 setelah PON 2024. Namun, keterbatasan dukungan anggaran membuat KONI harus menentukan skala prioritas.
Pada 2025 misalnya, program Pelatda diprioritaskan bagi atlet cabang olahraga individu peraih medali emas, perak, dan perunggu pada PON 2024, serta atlet peraih medali emas dari cabang olahraga beregu permainan.
Dalam konteks sepak bola putra, tim Jakarta pada PON 2024 tidak lolos sehingga belum memenuhi kriteria yang digunakan untuk masuk program Pelatda berdasarkan hasil PON sebelumnya. Sementara sepak bola putri yang meraih medali perak juga belum masuk prioritas Pelatda berdasarkan skema tersebut.
“Tapi, kondisi tersebut tidak berarti pembinaan sepak bola berhenti. Pembinaan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan partisipasi pemerintah, klub, pengurus cabang olahraga, hingga masyarakat,” jelasnya.
Andri menyampaikan, KONI DKI juga telah melakukan komunikasi dengan Asprov PSSI DKI Jakarta untuk membahas program dan strategi menghadapi babak kualifikasi PON hingga akhirnya Jakarta lolos ke PON.
Ia menyampaikan, Asprov telah menyiapkan sejumlah langkah, termasuk melakukan seleksi pemain berdasarkan hasil Liga 4 serta pemantauan pemain potensial dari luar Jakarta.
“Atlet Jakarta itu ada, tapi talent pool-nya tidak banyak seperti atlet di provinsi-provinsi lain. Mereka juga sedang melakukan pemantauan terhadap atlet-atlet dari provinsi lain agar bisa bermain untuk Jakarta,” ungkapnya.
Andri menambahkan, perhatian terhadap sepak bola tetap menjadi bagian dari upaya DKI Jakarta meningkatkan prestasi olahraga secara keseluruhan. Menurutnya, sepak bola memiliki perhatian publik yang besar sehingga keberhasilannya menjadi salah satu indikator yang turut dinantikan masyarakat.
“Kalau juara umum kalau belum sepak bola kayaknya enggak afdal. Ini kegelisahan masyarakat sepak bola Jakarta. Semuanya peduli,” tandasnya.