Selasa, 11 Agustus 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 250
(Foto: Istimewa)
Sejumlah perusahaan dan pengelola gedung di sepanjang kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, menunjukkan dukungan terhadap pembangunan SPALD-T (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat).
Dukungan tersebut diberikan dengan memperbolehkan sebagian lahan mereka digunakan untuk pembangunan jaringan perpipaan menuju fasilitas pengolahan air limbah.
"sehingga tidak terjadi kemacetan di Jalan TB Simatupang,"
Direktur Utama Perumda PAL Jaya, Untung Suryadi mengapresiasi partisipasi para pemilik dan pengelola gedung yang telah merelakan lahannya digunakan untuk pembangunan jaringan perpipaan air limbah.
Ia menilai, penggunaan lahan privat tersebut menjadi solusi agar pembangunan jaringan perpipaan air limbah tidak seluruhnya dilakukan di badan jalan TB Simatupang yang memiliki tingkat kepadatan lalu lintas tinggi.
“Alhamdulillah kami berterima kasih pada gedung-gedung yang kami lewati. Setelah mungkin dulu pernah terjadi kemacetan di TB Simatupang, akhirnya kami bernegosiasi dengan gedung-gedung untuk dapat menanam jaringan pipa di antara gedung-gedung tersebut,” ujarnya, Selasa (11/8).
Beberapa perusahaan maupun pengelola gedung yang memberikan ruang untuk pembangunan jaringan perpipaan antara lain, Cibis Park, Wisma Raharja, Sovereign Plaza, PT JGC Indonesia, OLX Mobbi, Kinarya Selaras (Kisel Group), Fatmawaty City Center (FCC), RSUP Fatmawati, dan KPP Cilandak atau Kantor Pajak.
Untung mengatakan, partisipasi para pemilik gedung memungkinkan PAL Jaya membangun jaringan perpipaan melalui halaman atau area lahan gedung, sehingga dapat mengurangi pekerjaan konstruksi di badan Jalan TB Simatupang.
Ia menjelaskan, pembangunan jaringan perpipaan tersebut dilakukan dengan metode konstruksi pada kedalaman sekitar 11 meter. Untuk setiap titik pekerjaan, PAL Jaya harus membuat lubang berukuran cukup besar, yakni sekitar 5 x 7 meter.
“Sehingga kami tidak perlu menanam pipa di jalan, tapi berada di halaman-halaman mereka. Kami buat lubang di halaman mereka itu kurang lebih pada dimensi 5 x 7 meter, cukup besar, dengan kedalaman 11 meter. Tapi mereka bersedia untuk lahannya dipergunakan sehingga tidak terjadi kemacetan di jalan TB Simatupang,” jelasnya.
Untung menyampaikan, selain menghindari gangguan terhadap lalu lintas, pembangunan jaringan perpipaan tersebut sekaligus mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mewujudkan sanitasi aman.
Limbah dari gedung-gedung di kawasan TB Simatupang nantinya akan dialirkan menuju IPAL TB Simatupang untuk diolah sebelum dapat dimanfaatkan kembali sesuai ketentuan pengolahan air limbah.
Untung mengatakan, dukungan tersebut tidak terlepas dari peran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mempertemukan PAL Jaya dengan para pemilik dan pengelola gedung.
Salah satunya melalui Asisten Pembangunan & Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang mengundang para pemilik atau pengelola gedung untuk membahas pembangunan jaringan perpipaan.
Para pemilik maupun pengelola gedung diberikan penjelasan mengenai manfaat proyek tersebut, terutama dalam mendukung penyediaan sistem sanitasi dan pengolahan air limbah di kawasan Cilandak dan TB Simatupang.
“Alhamdulillah kami di-support oleh Pemprov DKI, khususnya Pak Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Beliau mengundang para pemilik atau pengelola gedung tadi untuk mengajak berkontribusi, ikut berpartisipasi dalam pembangunan Pemprov DKI Jakarta, khususnya dalam mewujudkan sanitasi aman di TB Simatupang,” katanya.
Ia mengungkapkan, proses konstruksi pada setiap titik membutuhkan waktu cukup lama. Setiap lubang untuk pembangunan jaringan perpipaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.
“Paling tidak kalau kami melubangi itu minimal tiga bulan, untuk dilubangi untuk bisa menanam sambung-menyambung dari Pipa 1 sampai nanti menuju ke tempat instalasi pengolahan air limbahnya itu,” ucapnya.
Adapun IPAL TB Simatupang dirancang memiliki kapasitas pengolahan mencapai 6.000 meter kubik per hari. Fasilitas tersebut diproyeksikan dapat melayani sekitar 72 gedung yang berada di sepanjang kawasan TB Simatupang.
“Kalau dengan kapasitas tadi kurang lebih akan melayani 114.000 jiwa,” ungkapnya.
Ia mengatakan, PAL Jaya juga memberikan sejumlah fasilitas, termasuk proses pemasangan lebih awal serta kemudahan pembayaran sebagai bentuk kemudahan bagi para pengelola gedung tersebut yang telah berkontribusi merelakan lahannya digunakan untuk pembangunan jaringan perpipaan.
PAL Jaya juga mengajak gedung-gedung lain di kawasan yang telah dilalui jaringan perpipaan air limbah untuk segera melakukan penyambungan. Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 10 Tahun 2024.
“Dengan tersambung ke jaringan PAL Jaya, pengelola gedung tidak lagi perlu mengolah air limbah secara mandiri melalui instalasi pengolahan air limbah masing-masing. Seluruh air limbah akan dialirkan ke sistem PAL Jaya untuk menjalani proses pengolahan sesuai standar yang berlaku,” tandasnya.