Kamis, 06 Agustus 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Budhy Tristanto 159
(Foto: Anita Karyati)
Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Utara bergerak cepat menindaklanjuti temuan rembesan air di badan Jalan Muara Baru Ujung, tepatnya di depan Gedung Pompa Pluit, Kelurahan Penjaringan.
Kepala Sudin SDA Jakarta Utara, Heria Suwandi mengatakan, hasil survei lapangan menunjukkan rembesan air terjadi akibat tingginya tekanan air laut yang diperparah penurunan muka tanah (land subsidence).
Buatkan alur agar air rembesan langsung mengalir ke saluran drainase
Kondisi tersebut, menurut Suwandi, menyebabkan permukaan daratan di kawasan itu berada lebih rendah dibandingkan permukaan laut.
“Selain itu, kami juga menemukan adanya penyalahgunaan tanggul NCICD yang dijadikan tempat tambatan kapal nelayan secara ilegal. Aktivitas tersebut menambah beban pada konstruksi tanggul sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan,” ujarnya, Kamis (6/8).
Ia mengungkapkan, rembesan diduga berasal dari infiltrasi air laut yang masuk melalui celah pada tanggul.
Kondisi itu diperparah juga oleh tingginya intensitas kendaraan bertonase besar, seperti truk, yang setiap hari melintas di atas jalur pipa pompa utama sehingga memengaruhi kekuatan konstruksi jalan.
Menurutnya, upaya penyuntikan semen (grouting) sebelumnya telah dilakukan, namun belum memberikan hasil optimal karena air terus mencari celah baru untuk keluar.
"Untuk mencegah kerusakan yang lebih luas, kami telah mengusulkan sejumlah langkah preventif melalui koordinasi lintas instansi bersama kementerian terkait, Dinas SDA, Bina Marga, KPKP, dan Dinas Perhubungan," ucapnya.
Suwandi merinci adapun langkah yang diusulkan meliputi pembatasan tonase kendaraan yang melintas di depan Gedung Pompa Pluit, penertiban penggunaan tanggul NCICD sebagai tempat tambatan kapal, serta perbaikan permanen terhadap titik-titik kebocoran pada tanggul.
Sebagai penanganan sementara, petugas akan membuat alur kecil di lokasi rembesan agar air langsung mengalir ke saluran drainase sehingga tidak menggenangi badan jalan.
“Kami buatkan alur agar air rembesan langsung mengalir ke saluran drainase. Dengan begitu, air tidak lagi menggenangi badan jalan sehingga keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan tetap terjaga,” katanya.
Suwandi menambahkan, penanganan rembesan air di kawasan tersebut membutuhkan dukungan dan komitmen seluruh pemangku kepentingan karena penyebabnya cukup kompleks, mulai dari faktor alam hingga aktivitas manusia.
Ia juga mengimbau seluruh pihak, termasuk masyarakat dan nelayan, untuk ikut menjaga fungsi tanggul dengan semestinya.
“Kolaborasi semua pihak sangat diperlukan agar tanggul tetap berfungsi optimal sebagai pelindung kawasan pesisir. Dengan begitu, risiko kerusakan dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” tandasnya.