Senin, 27 Juli 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 143
(Foto: Anita Karyati)
Sebanyak 15 warga Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara mengikuti pelatihan budi daya ikan nila air payau yang diadakan pihak kelurahan setempat bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Indonesia (UI).
"Sangat positif"
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan alternatif usaha perikanan yang dapat dikembangkan masyarakat pesisir dengan menyesuaikan kondisi lingkungan dan keterbatasan lahan di wilayah kepulauan.
Sekretaris Kelurahan Pulau Panggang, Adehan mengapresiasi kolaborasi antara pihak kelurahan dan UI dalam memberikan pelatihan kepada masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru kepada warga, tetapi juga membuka peluang usaha perikanan yang adaptif terhadap kondisi pesisir dan perubahan lingkungan.
"Kegiatan ini sangat positif. Warga diperkenalkan teknik budi daya ikan nila menggunakan media galon bekas sebagai solusi bagi wilayah dengan lahan terbatas," ujarnya, Senin (27/7).
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UI, Filia menjelaskan, budi daya ikan nila air payau dapat menjadi salah satu alternatif sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir. Terlebih, aktivitas melaut sering terkendala kondisi cuaca dan perubahan lingkungan.
"Saat ini nelayan menghadapi tantangan besar akibat perubahan kondisi lingkungan. Budi daya nila ini dapat menjadi alternatif usaha yang berkelanjutan," terangnya.
Ia memaparkan, dalam pelatihan tersebut warga dibekali pengetahuan dan teknologi budi daya yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan Pulau Pramuka. Materi yang diberikan meliputi pengaturan salinitas, kepadatan tebar, manajemen pakan, hingga pemantauan kualitas air.
"Pengetahuan ini diberikan agar masyarakat dapat menerapkan teknik budi daya secara tepat sehingga pertumbuhan ikan dan hasil panen dapat lebih optimal," ungkapnya.
Filia menambahkan, ikan nila yang dibudidayakan di air payau memiliki keunggulan berupa pertumbuhan yang relatif cepat dengan masa panen sekitar tiga hingga empat bulan. Selain itu, ikan nila air payau disebut memiliki cita rasa yang lebih gurih dibandingkan dengan nila yang dibudidayakan di air tawar.
"Ke depan, kami akan terus mengembangkan model budi daya berbasis media galon ini yang disesuaikan dengan karakteristik lingkungan pesisir di Pulau Pramuka," imbuhnya.
Ia menuturkan, pelatihan tersebut juga melibatkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di bidang perikanan dan kelautan, Dedy Yaniharto, serta mahasiswa dan alumni UI.
"Mereka memberikan pendampingan secara langsung kepada para peserta selama pelatihan," bebernya.
Sementara itu, Ketua RT 03/05, Kelurahan Pulau Panggang, Nurlela menyambut baik inovasi budi daya ikan nila air payau tersebut.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh warga dapat segera diterapkan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.
"Kami sangat berterima kasih kepada UI. Semoga ilmu ini bisa diterapkan sehingga masyarakat memiliki penghasilan tambahan, terutama saat musim angin kencang ketika nelayan tidak dapat melaut," tandasnya.