Jumat, 12 Juni 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 233
(Foto: Fakhrizal Fakhri)
Biro Umum dan Administrasi Sekretariat Daerah (Setda) DKI Jakarta menggelar apel pengarahan Gerakan Pilah Sampah di Balai Kota sekaligus membuka kompetisi Balai Kota Eco Creative bagi Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) di Ruang Pertemuan MH Thamrin, Gedung Grha Ali Sadikin, Balai Kota Jakarta, Jumat (12/6).
Kompetisi Balai Kota Eco Creative 2026 mengusung tema ‘Dari Sampah Menjadi Karya, Dari Karya Menjadi Manfaat’. Program ini dirancang sebagai wadah pemberdayaan bagi personel PJLP Biro Umum untuk meningkatkan kesadaran dalam mengelola sampah melalui berbagai inovasi kreatif yang memiliki nilai guna dan nilai tambah.
"Pengelolaan sampah secara nyata,"
Melalui kompetisi tersebut, peserta didorong tidak hanya mengolah sampah yang dihasilkan di lingkungan Balai Kota, tetapi juga membangun budaya memilah dan mengelola sampah dari sumbernya. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Kepala Biro Umum dan Administrasi Setda DKI Jakarta, Sony Tjahjadi mengatakan, pengelolaan sampah yang berkelanjutan harus diawali dengan perubahan pola pikir dan budaya seluruh penghuni Balai Kota.
Menurutnya, Pemprov DKI terus mendorong implementasi Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang pengelolaan sampah dari sumber. Upaya tersebut juga menjadi perhatian Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno yang secara aktif memantau praktik pengelolaan sampah di berbagai wilayah.
"Yang menjadi tantangan kita di lingkungan Balai Kota adalah bagaimana mengimplementasikan pengelolaan sampah secara nyata. Karena itu saya mengajak seluruh penghuni Balai Kota untuk peduli terhadap persoalan sampah," ujar Sony.
Ia menegaskan, perubahan pola pikir merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum membangun kebiasaan baru dalam memilah dan mengolah sampah.
"Kita yang berada di lingkungan Balai Kota merupakan garda terdepan pelayanan publik dan mengetahui berbagai persoalan di lapangan. Karena itu, saya meminta semua pihak untuk peduli terhadap pengelolaan sampah," tegasnya.
Sony juga mengapresiasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang telah memberikan sosialisasi pengelolaan sampah kepada seluruh penghuni Balai Kota. Menurutnya, volume sampah yang dihasilkan setiap hari cukup besar sehingga diperlukan keterlibatan seluruh pihak untuk menguranginya.
Saat ini, lanjut Sony, fokus utama masih pada pemilahan dan pengolahan sampah. Namun, ke depan upaya tersebut harus diarahkan pada pengurangan timbulan sampah sejak dari sumbernya.
"Harapan saya, kita tidak hanya memilah sampah, tetapi juga mampu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Jangan sampai sampah yang sudah dipilah justru tercampur kembali saat proses pembuangan," katanya.
Ia berharap, proses pemilahan sampah dapat diterapkan secara konsisten hingga tahap pengangkutan dan pengolahan akhir. Dengan demikian, volume sampah di lingkungan Balai Kota yang mencapai sekitar 400 kilogram per hari dapat terus ditekan.
Dikatakan Sony, penyelenggaraan Balai Kota Eco Creative menjadi momentum untuk melahirkan berbagai inovasi dalam pengelolaan sampah. Sebab itu, ia mendorong pegawai maupun PJLP menghadirkan gagasan kreatif yang tidak hanya meniru praktik yang sudah ada, tetapi juga menghasilkan terobosan baru yang bermanfaat bagi lingkungan.
"Kreativitas teman-teman semua yang akan kami lihat. Boleh mencontoh yang sudah ada, tetapi harus bisa menghasilkan sesuatu yang baru dan memberikan manfaat," katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak dapat dicapai secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Baznas, Dinas Lingkungan Hidup, dan mitra lainnya perlu terus diperkuat untuk mewujudkan lingkungan Balai Kota yang lebih bersih, inovatif, dan berkelanjutan.