Senin, 20 April 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 127
(Foto: Istimewa)
Peresmian Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated menandai dimulainya operasional fasilitas baru di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.
Momentum ini juga dirangkaikan dengan pembukaan pameran arsip bertema ‘Raden Saleh & Cikini: Genealogi Ruang, Seni, dan Ingatan’ yang mengangkat hubungan sejarah, seni, dan perkembangan kawasan tersebut.
"perjumpaan lintas budaya sejak abad ke-19,"
Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, Iwan Takwin mengatakan, peresmian ini bukan sekadar pembukaan fasilitas, melainkan upaya menghidupkan kembali narasi besar kawasan Cikini yang memiliki akar sejarah dan kekuatan budaya penting bagi Jakarta. Ia menyampaikan, Cikini sebagai ruang dengan identitas intelektual yang telah terbentuk sejak lama.
“Sosok Raden Saleh tidak hanya dikenal sebagai pelukis besar Indonesia, tetapi juga figur visioner yang merepresentasikan keterbukaan dan kemajuan pemikiran. Keterkaitan historis Raden Saleh dengan Cikini menjadikan kawasan ini sebagai ruang perjumpaan lintas budaya sejak abad ke-19,” ujarnya, Senin (20/4).
Iwan menjelaskan, kawasan TIM selama ini telah menjadi pusat denyut kreativitas, mencakup seni, budaya, hingga ilmu pengetahuan. Karena itu, kehadiran Paviliun Raden Saleh diposisikan lebih dari sekadar fasilitas akomodasi, melainkan sebagai ruang yang menghubungkan sejarah dengan masa depan.
Ia mengatakan, paviliun tersebut dirancang sebagai ruang terintegrasi yang menyediakan layanan hospitality sekaligus pengalaman seni budaya. Fasilitas ini mencakup ruang pertemuan, penginapan, restoran, serta konektivitas langsung dengan ekosistem kreatif di kawasan. Ia berharap pengunjung tidak hanya singgah, tetapi juga merasakan nilai sejarah dan energi kolaboratif yang hidup di Cikini.
“Melalui kolaborasi dengan Artotel Group, Jakpro ingin menghadirkan standar hospitality yang selaras dengan karakter Jakarta sebagai kota global berbudaya. Hospitality tidak hanya berorientasi pada layanan, tetapi juga pada penciptaan ruang yang ramah bagi seniman, nyaman bagi publik, dan terbuka bagi interaksi,” jelasnya.
Chief Operating Officer Artotel Group, Eduard Rudolf Pangkerego menyampaikan, Paviliun Raden Saleh dihadirkan sebagai ruang yang merayakan seni, sejarah, dan budaya. Ia menilai pameran arsip yang digelar menjadi bagian penting dalam memperkaya nilai artistik dan historis hotel.
“Sekaligus memperkuat perannya sebagai creative hub di kawasan tersebut,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi menilai, kehadiran Paviliun Raden Saleh di kawasan TIM menjadi bagian penting dari perjalanan panjang pengembangan ekosistem seni.
Ia melihat kawasan ini memiliki nilai historis yang kuat sejak era Raden Saleh hingga berkembang sebagai pusat kesenian modern. Dinamika yang terjadi selama puluhan tahun justru membentuk karakter TIM sebagai ruang dialog, pertemuan lintas disiplin, dan tempat bertumbuhnya kreativitas.
“Dengan hadirnya fasilitas baru yang terintegrasi dengan aktivitas seni dan budaya, DKJ memandang ini sebagai langkah positif untuk memperkuat keberlanjutan ruang berkesenian,” katanya.
Ia menilai, kolaborasi antara pemerintah, BUMD, dan pelaku industri kreatif mampu menciptakan keseimbangan antara fungsi seni, pemanfaatan ruang, dan kemandirian pengelolaan.
“Ke depan, TIM diharapkan semakin menjadi pusat seni kreatif yang terbuka, produktif, dan relevan bagi masyarakat luas,” tandasnya.