Kamis, 16 April 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Andry 159
(Foto: Bilal Nugraha Ginanjar)
Kolaborasi pengelolaan sampah di wilayah permukiman RW 09 Kelurahan Keagungan, Taman Sari, Jakarta Barat, melibatkan swasta dan civitas akademika.
Hasilnya, tidak hanya mampu mengurangi volume residu yang harus dibuang ke tempat penampungan sampah (TPS), kegiatan juga berdampak ekonomis terhadap warga.
"Saat ini seluruh warga di RW 09 Keagungan ini sudah terlibat,"
Lurah Keagungan, Sahat Marulitua Simorangkir mengatakan, kegiatan pengelolaan sampah di wilayah RW 09 Kelurahan Keagungan dipelopori oleh pengurus RW dan Kader PKK. Kelanjutannya, pengembangan dilakukan ke seluruh warga di wilayah RW 09 Kelurahan Keagungan.
"Saat ini seluruh warga di RW 09 Keagungan ini sudah terlibat melakukan pengelolaan dengan memilah sampah dari rumah. Untuk pengembangannya, Kami berkolaborasi dengan Pegadaian dan Universitas Indonesia," katanya, Kamis (16/4).
Dijelaskan Sahat, pengelolaan dilakukan warga meliputi sampah jenis organik, an organik dan limbah rumah tangga. Terhadap sampah organik, warga mengolahnya menjadi kompos dan eco-enzyme.
Lalu, untuk sampah an organik akan dipilah. Bagi sampah an organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, akan diolah menjadi produk seperti kursi eco brick dan berbagai produk kriya lainnya.
Sedangkan sebagian lainnya yang memiliki nilai jual seperti kertas, kardus dan botol plastik, akan dilakukan penimbangan di bank sampah. Hasil penimbangan itu akan dikonversi menjadi rupiah dalam bentuk tabungan emas bekerjasama dengan PT Pegadaian.
Tidak menjadi tabungan yang bisa ditukar menjadi emas, hasil konversi sampah itu juga bisa manfaatkan untuk membeli berbagai produk yang diprogramkan oleh PT Pegadaian. Lalu juga ada pengelolaan limbah rumah tangga seperti minyak jelantah yang dihimpun untuk dijual.
"Kehadiran teman-teman dari Universitas Indonesian melakukan penelitian yang berkontribusi untuk meningkatkan kinerja masyarakat dalam pengolahan sampah ini," ujarnya.
Selain pengelolaan sampah, Sahat mengaku Kelurahan Keagungan juga telah mengembangkan program Satu Karung Bersama Ubiku'. Program itu mendorong setiap warga memiliki setidaknya satu karung tanaman ubi.
Hasil tanaman ubi itu selama ini ditampung oleh pelaku UMKM di RW 09 Kelurahan Keagungan yang telah memiliki sertifikasi halal dan layak jual. Produksi ubi itu melibatkan para kader PKK dan biasanya dilakukan dua kali dalam sepekan.
"Jadi ini menjadi sirkuler ekonomi. Pupuk untuk menanam ubi juga dari hasil pengelolaan sampah," tambahnya.
Ketua RW 09 Kelurahan Keagungan, Wina Handayani menjelaskan, upaya pengelolaan sampah ini berawal dari keprihatinan kejadian sampah banyak menumpuk di wilayahnya. Kemudian sejak tahun lalu pihaknya menginisiasi pengelolaan sampah dengan melakukan pemilahan, komposting dan pengadaan bank sampah.
Dampaknya, tidak hanya berhasil mengurangi volume dari sebelumnya sekitar 2 gerobak menjadi hanya satu gerobak sampah yang dibuang setiap pekan, saat ini warga juga telah mulai menuai hasil ekonomi dari pengelolaan sampah.
"Kita tahu bahwa kondisi di Bantar Gebang sudah mengalami penumpukan sampah yang sangat luar biasa. Setidaknya dengan pengolahan ini kami sudah berhasil mengurangi," tandasnya.