Kamis, 26 Maret 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 125
(Foto: Anita Karyati)
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara bergerak cepat mengantisipasi ancaman rob dan genangan di sejumlah wilayah pesisir. Langkah ini dilakukan untuk menjaga aktivitas masyarakat tetap berjalan normal, seiring prediksi pasang air laut yang berpotensi terjadi pada April mendatang.
"Menyiagakan 150 personel Pasukan Biru"
Kepala Seksi Pemeliharaan Drainase Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara, Yudo Widiatmoko mengatakan, berdasarkan prediksi BMKG, potensi banjir rob diprakirakan terjadi pada 19 April 2026 dengan ketinggian muka air laut mencapai sekitar 1,15 meter.
"Semoga nantinya semua masih cukup kondusif dan aktivitas masyarakat tidak terganggu," ujarnya, Kamis (26/3).
Yudo menjelaskan, sejumlah titik rawan rob tersebar di beberapa wilayah Jakarta Utara. Untuk Kecamatan Penjaringan, lokasi rawan meliputi Kapuk Raya, Muara Angke, Pelabuhan Nizam Zachman, kawasan Baywalk Pluit, serta tanggul Pelindo Muara Baru.
Kemudian, di Kecamatan Pademangan, genangan biasa terjadi di Jalan Lodan Raya, Ancol Timur Utara, dan Jalan Ketel Uap. Untuk Kecamatan Cilincing, wilayah yang perlu diwaspadai antara lain Marunda Pulo dan Marunda Makmur, khususnya di sekitar MTs Al Kasyaf.
"Kalau di Kecamatan Tanjung Priok dan Koja itu titik rawan genangan berada di Jalan RE Martadinata dan Jalan Arteri Kali Sunter," bebernya.
Ia menegaskan, untuk mengantisipasi potensi rob tersebut telah disiapkan berbagai langkah strategis. Upaya yang dilakukan meliputi pembangunan dan peninggian tanggul, pengerukan lumpur kali, pemasangan tanggul darurat di sejumlah titik, serta pengoperasian pompa air di berbagai lokasi rawan.
"Kami juga telah menyiagakan 150 personel Pasukan Biru, 20 unit pompa apung, 16 unit pompa mobile, serta delapan stasiun pompa lengkap dengan operatornya," terangnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Fredy Setiawan mengingatkan pentingnya peninjauan langsung ke lapangan untuk memastikan kesiapan penanganan banjir rob.
Ia menginstruksikan seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk melakukan aksi nyata serta mempercepat sinkronisasi data kebencanaan.
Fredy menjadwalkan kunjungan lapangan pada 30 hingga 31 Maret mendatang untuk meninjau dan mengecek berbagai upaya mitigasi yang telah dilakukan.
"Segera jadwalkan kunjungan untuk melihat langsung aksi pencegahan, mulai dari kesiapan perahu karet hingga progres pengerjaan tanggul mitigasi dan pembersihan saluran, seperti di wilayah RE Martadinata, Penjaringan, hingga Muara Karang," ucapnya.
Selain kesiapan fisik, Fredy meminta agar jalur-jalur protokol harus tetap berfungsi optimal saat terjadi pasang air laut maupun hujan lebat. Akses jalan utama tidak boleh terganggu akibat genangan.
"Antisipasi jalur protokol sangat penting. Jangan sampai akses utama lumpuh karena tergenang. Kita harus memastikan langkah pencegahan di jalur tersebut berjalan efektif," imbuhnya.
Fredy juga meminta jajaran kelurahan dan kecamatan untuk aktif membongkar hambatan di saluran air yang berpotensi menyebabkan penyumbatan. Upaya ini dinilai penting untuk memperlancar aliran air saat terjadi peningkatan debit.
"Semoga langkah ini mampu meminimalisasi dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat Jakarta Utara yang selama ini kerap terdampak rob, sekaligus kita meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem," tandasnya.