Rabu, 25 Maret 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Toni Riyanto 175
(Foto: Doc)
Arus urbanisasi usai Lebaran masih kembali mengarah ke Jakarta. Fenomena tahunan ini menegaskan posisi Jakarta sebagai magnet bagi masyarakat dari berbagai daerah yang ingin mencari pekerjaan dan memperbaiki taraf hidup. Namun di balik peluang tersebut, tantangan besar juga membayangi, terutama terkait daya tampung kota yang semakin terbatas.
"Jakarta memang masih menjadi primadona"
Legislator Komisi D DPRD DKI Jakarta, Nabilah Aboebakar Alhabsyi mengingatkan para pendatang agar tidak datang ke Jakarta tanpa persiapan matang.
Srikandi muda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menekankan pentingnya bekal keterampilan, kepastian pekerjaan, serta kesiapan ekonomi sebelum memutuskan merantau ke Ibukota.
"Jakarta memang masih menjadi primadona, tetapi kita harus realistis karena hidup di kota ini tidaklah mudah. Pendatang harus datang dengan rencana yang jelas, bukan sekadar berharap keberuntungan," ujarnya, Rabu (25/3).
Menurutnya, arus pendatang yang tidak terencana justru berpotensi menambah persoalan baru di perkotaan. Mulai dari meningkatnya angka pengangguran hingga munculnya permukiman tidak layak huni yang dapat memperburuk kualitas lingkungan dan tata kota.
Nabilah mendorong agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperkuat sistem pendataan serta pengawasan administrasi kependudukan. Selain itu, ia menilai edukasi kepada calon pendatang perlu ditingkatkan, terutama terkait kondisi riil lapangan kerja dan tingginya biaya hidup di Jakarta.
Melalui upaya tersebut, Nabilah berharap urbanisasi dapat lebih terkendali dan tidak menimbulkan dampak sosial yang lebih luas.
"Jakarta tetap terbuka bagi siapa saja, namun perlu dijaga bersama agar tetap tertib dan layak huni bagi seluruh warganya," tandasnya.