Harga Obat Mahal, Pasien RSUD Mengeluh

Kamis, 17 April 2014 Reporter: Hendi Kusuma Editor: Widodo Bogiarto 11332

RSUD Cengkareng

(Foto: doc)

Kenaikan inflasi dan biaya produksi menjadi alasan produsen obat untuk menaikkan harga obat yang sebagian besar masih ditanggung secara pribadi oleh masyarakat. Akibatnya, mahalnya harga obat yang harus ditebus pasien semakin menambah beban hidup.

Saya binggung, harga obat makin mahal, sementara adik saya butuh obat rutin setiap minggunya harus ditebus. Sementara ekonomi keluarga saya sedang tidak baik

Seorang keluarga pasien RSUD Cengkareng, Dedi (31) mengeluhkan, mahalnya harga obat yang harus ditebus untuk adiknya yang menderita penyakit paru-paru. Selama satu tahun terakhir, dia harus menebus obat hingga Rp 200 ribu setiap kali adiknya berobat.

Ongkos pembelian obat yang harus dikeluarkan itu, menurut Dedi, sangat memberatkan. Apalagi kondisi keuangan keluarganya saat ini tengah kembang kempis, akibat sang adik sering keluar masuk rumah sakit.

“Saya binggung, harga obat makin mahal, sementara adik saya butuh obat rutin setiap minggunya harus ditebus. Sementara ekonomi keluarga saya sedang tidak baik” keluh Dedi.

Dedi mengaku, ketika adiknya dirawat di RSUD Cengkareng satu tahun lalu, biaya untuk ruang rawat inap dan perawatan murah. Namun saat dokter memberikan resep obat untuk ditebus ke apotek, dia kaget karena harganya mahal, sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu setiap kali menebus resep.

Menanggapi keluhan pasien tersebut, Humas RSUD Cengkareng, Agung mengatakan, harga obat sudah mengacu pada Formularium Nasional (Fornas) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

Menurut Agung, semua harga obat dan layanan RSUD Cengkareng sudah sesuai dengan prosedur yang diatur pemerintah. “Semua prosedur sesuai dengan standar pelayanan, ” ujarnya.

Terkait sosialisasi obat generik di lingkungan rumah sakit, Agung mengakui, saat ini pihaknya belum melakukannya.

"Saat ini masih dalam proses KJS (Kartu Jakarta Sehat) menuju BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), jadi obat generik belum kami sosialisakan disini," tandasnya.

Dihubungi terpisah, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Husna Zahir menegaskan, mahalnya harga obat sehingga memberatkan pasien miskin harus ditanggapi serius apotek dan rumah sakit.

"Setiap konsumen mempunyai hak untuk mengetahui informasi seputar kualitas dan harga obat yang beredar di masyarakat. Obat generik juga harus mempunyai kualitas yang sama." kata Husna.

Husna menjelaskan, mahalnya harga obat karena bahan baku untuk pembuatan obat masih impor. Belum lagi biaya biaya iklan dan marketing, sehingga biaya produksi obat paten jauh lebih mahal. 

BERITA TERKAIT
       Ribuan CPNS Antri Tes Kesehatan di RS Budi Asih

CPNS Tes Kesehatan, Pasien RS Budi Asih Terganggu

Rabu, 16 April 2014 27534

ahok_batik_stokk.jpg

Sakit Tenggorokan, Basuki Tak Masuk Kantor

Senin, 14 April 2014 3588

Rumah sakit soeharto

Penderita Gangguan Jiwa di Jakarta Meningkat

Jumat, 11 April 2014 36042

rs_koja_penuh_bayu.jpg

RSUD Koja Kewalahan Tangani Pasien JKN

Rabu, 02 April 2014 11285

Kegiatan pencoblosan di TPS 135 dan TPS 136 untuk karyawan dan tenaga medis dilakukan di lantai satu

Pencoblosan di RSUD Cengkareng Sepi

Rabu, 09 April 2014 6135

BERITA POPULER
IMG 20260319 191414

PPSU Jelambar Bersih-bersih TPS Depo Kembar

Kamis, 19 Maret 2026 2301

IMG 20260319 WA0000

Kebakaran di SMAN 84 Hanguskan Ruang Perpustakaan

Kamis, 19 Maret 2026 2241

Mudik gratis pemprov rezap

Dukung Mudik Gratis, Bank Jakarta Sediakan 20 Bus Berbagai Tujuan

Selasa, 17 Maret 2026 1690

Car free night sarinah otoy

Pemprov DKI Gelar Car Free Night saat Malam Takbiran

Kamis, 19 Maret 2026 955

Pemprov dki kemenag jalan istiqlal folmer

DKI dan Kemenag RI Sepakati Kerja Sama Pemanfaatan Barang Milik Daerah

Senin, 16 Maret 2026 1342

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks