Jumat, 27 Februari 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 271
(Foto: Anita Karyati)
Bulan Ramadan menghadirkan suasana berbeda di kawasan perempatan Jalan Sunter Permai, Kelurahan Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan keberadaan penjual takjil yang ingin mencari rezeki.
"Omzet hariannya lebih dari Rp 1 juta"
Berlokasi dekat Gedung Mitra Praja Sunter, deretan lapak takjil musiman bermunculan, menghadirkan aroma gorengan hangat serta aneka minuman segar yang menggoda menjelang waktu berbuka puasa.
Salah seorang pedagang, Hindun (52), mengaku hanya berjualan di lokasi tersebut selama Ramadan. Sebab, pada hari biasa hanya menitipkan kue buatannya ke sejumlah warung.
"Berjualan di sini hanya saat Ramadan dengan menjual beraneka takjil," ujarnya, Jumat (26/2).
Dalam menjalankan usahanya, Hindun biasanya dibantu anaknya. Namun, ketika sang anak bekerja, seluruh proses produksi hingga penjualan dilakukan sendiri.
"Setiap hari saya membuat sekitar 50 hingga 70 pcs aneka takjil sesuai kemampuan," ujarnya, Jumat (27/2).
Ia menuturkan, beragam makanan dijualnya, mulai dari gorengan seharga Rp 2.500 hingga Rp 3.000, kolak dan aneka bubur Rp 7.000, kue tradisional seperti talam, donat, bolu kukus, dan dadar gulung seharga Rp 3.000 sampai Rp 5.000, serta aneka mi seharga Rp 5.000.
"Alhamdulillah, selama Ramadan ada keuntungan. Omzet per hari bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu dan sebagian digunakan kembali untuk modal belanja," terangnya.
Menariknya, di lapaknya juga terdapat titipan kue dari anak yatim. Menurut Hindun, Ramadan menjadi momentum untuk saling membantu dan berbagi rezeki.
"Saya berharap dagangan terus diminati pembeli. Ramadan tahun ini lebih ramai dibandingkan tahun lalu. Sekarang sudah seminggu berjualan dan setiap hari dagangan habis," ungkapnya.
Tidak jauh dari lokasi berjualan Hindun, terdapat Arjuna (47), warga Sunter Muara yang menjual aneka minuman segar seperti jus, es buah, dan es teler dengan harga Rp 6.000 per bungkus. Setiap hari, ia mampu menjual 200 hingga 500 bungkus, tergantung tingkat keramaian pengunjung.
"Pada hari biasa saya berjualan di depan SMP Negeri 116 Jakarta, tetapi selama Ramadan saya memanfaatkan ramainya kawasan ini," bebernya.
Arjuna dibantu dua rekannya dalam berjualan. Ia memastikan seluruh minuman dibuat dari buah asli untuk menjaga kualitas rasa.
"Omzet hariannya lebih dari Rp 1 juta. Alhamdulillah pembeli selalu ramai. Semoga dagangan saya semakin dikenal masyarakat," harapnya.
Bagi pembeli, keberadaan lapak takjil di kawasan tersebut memberikan kemudahan tersendiri. Salah seorang warga Papanggo, Fitri (36) mengaku rutin membeli takjil di lokasi itu dan telah menjadi pelanggan Hindun.
"Jajanannya enak, risol dan bihunnya favorit saya. Biasanya saya ngabuburit sambil mencari takjil bersama anak," imbuhnya.
Hal senada disampaikan Dwiki (33), pekerja di ruko sekitar lokasi. Ia menilai banyaknya pedagang memudahkan masyarakat mendapatkan menu berbuka dengan harga terjangkau dan pilihan yang beragam.
"Senang karena pilihannya banyak, jadi tidak bingung mencari menu berbuka. Semoga ramainya pembeli juga dapat meningkatkan perekonomian para pedagang," tandasnya.