38 Kasus DBD di Jaksel Cepat Ditangani

Senin, 02 Februari 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: 1481

Pogging cegah dbd

(Foto: Andri Widiyanto)

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan sudah bergerak cepat menangani sebanyak 38 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Januari 2026 untuk mencegah keparahan risiko keselamatan.

"Pemberantasan sarang nyamuk"

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri mengatakan, usia remaja dan dewasa muda menjadi kelompok usia paling rentan terpapar DBD.

Menurutnya, jumlah kasus tertinggi tercatat pada kelompok usia 12-25 tahun. Kemudian, diikuti oleh kelompok anak usia 5-11 tahun serta kelompok usia produktif 26-45 tahun.

"Untuk kelompok, lanjut usia atau di atas 59 tahun mencatat jumlah kasus yang relatif lebih rendah," ujarnya, Senin (2/2).

Debi menjelaskan, hingga Januari 2026, tercatat Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan menangani 38 kasus dengan angka incidence rate (IR) sebesar 1,64.

Ia menambahkan, Kecamatan Pasar Minggu mencatat kasus terbanyak dengan sembilan kasus, kemudian disusul Kecamatan Tebet dengan tujuh kasus.

"Kalau kecamatan lain, seperti Jagakarsa, Kebayoran Baru, dan Mampang Prapatan mencatat jumlah kasus di bawah lima," ungkapnya.

Debi menuturkan, tren kasus DBD di Jakarta Selatan masih menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meskipun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.

Pada 2024, lanjut Debi, Jakarta Selatan mencatat total 2.513 kasus DBD. Sedangkan, di tahun 2025, tercatat 1.528 kasus atau turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

"Jika dilihat dari Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah Jakarta Selatan masih berada pada standar aman yang ditetapkan Kementerian Kesehatan," bebernya.

Debi mengungkapkan, ABJ digunakan sebagai indikator untuk menilai tingkat kebersihan lingkungan dari potensi perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Standar aman ABJ yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan sebesar 95 persen ke atas.

Wilayah dengan ABJ di atas atau sama dengan 95 persen tercatat di Kecamatan Mampang Prapatan sebesar 98 persen, Pasar Minggu 97 persen, Jagakarsa 95 persen, Cilandak 95 persen, dan Kebayoran Lama 95 persen.

"Wilayah-wilayah itu relatif baik dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk, sehingga potensi perkembangbiakan nyamuk lebih rendah," terangnya.

Ia menyebut, untuk ABJ di bawah 95 persen tercatat di Kecamatan Kebayoran Baru, Pesanggrahan, Pancoran, Setiabudi, dan Tebet. Kondisi ini pun menunjukkan masih banyak rumah atau tempat yang positif jentik, sehingga risiko penularan DBD lebih tinggi.

"Untuk mengantisipasi DBD, kita bersama pemerintah setempat selalu mengingatkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, melakukan PSN rutin baik melalui kader ataupun mandiri guna menekan risiko penyebaran nyamuk aedes aegypti," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Sudinkes Jakbar Kuatkan Program Surveilans dan ILI-SARI Cegah Superflu

Sudinkes Jakbar Imbau Warga Terapkan PHBS Cegah Penularan Superflu

Senin, 05 Januari 2026 798

Pramono Pastikan Fasilitas Kesehatan di Jakarta Siap Tangani Kasus DBD

Curah Hujan Tinggi, Pramono Minta Jajarannya Pantau Potensi Lonjakan DBD

Selasa, 20 Januari 2026 822

BERITA POPULER
Penumpang mikrotrans cilik ist

Transjakarta Apresiasi Pelanggan Cilik Pengguna Setia Mikrotrans di Jaktim

Minggu, 11 Oktober 2026 29347

Metrologi DKI Tera Perangkat SPKLU gery ist2

Tera Perangkat SPKLU Pastikan Pengukuran Energi Listrik Akurat

Jumat, 09 Oktober 2026 11573

Evakuasi Korban Hanyut di Ciliwung ist

Petugas Berhasil Evakuasi Jenazah di Kali Ciliwung

Kamis, 08 Oktober 2026 6947

Tap jaklingko jati

MRT Jakarta Integrasikan Pembayaran Tiket JakLingko Mulai 12 Oktober 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 3898

Satriadi gunawan pol pp jati

Satpol PP Ungkap Kronologi Penyerangan Anggota Usai Penertiban di Kebayoran Baru

Senin, 12 Oktober 2026 1671

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks