Legislator Tegaskan OMC Dilakukan dengan Kajian Matang

Kamis, 29 Januari 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 776

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)

(Foto: Istimewa)

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike menyampaikan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah melalui kajian yang matang dan tidak dilakukan tanpa perhitungan dampak ke depan.

"Tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan dampak lingkungan,"

Menurut Yuke, Pemprov DKI melakukan OMC bukan sekadar upaya untuk mengurangi atau “memundurkan” hujan, melainkan bagian dari strategi mitigasi bencana agar pemerintah memiliki waktu untuk melakukan langkah antisipasi di lapangan.

“OMC pasti sudah dikaji. Tidak mungkin dilakukan tanpa pertimbangan dampak lingkungan maupun siklus alam. Tujuannya bukan menunda hujan lalu menimbulkan masalah di kemudian hari, tetapi memberi waktu untuk mitigasi,” jelas Yuke, Kamis (29/1).

Menurutnya, jeda waktu yang dihasilkan dari OMC dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan langkah-langkah darurat, seperti penguatan tanggul sementara, pemasangan bronjong, hingga penanganan titik-titik rawan banjir sebelum curah hujan kembali meningkat.

“Paling tidak kita bisa ‘ambil napas’ sebentar untuk menyiapkan langkah antisipasi, supaya ketika hujan datang lagi dampaknya tidak semakin parah,” katanya.

Meski demikian, Yuke menegaskan, bahwa OMC tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi pengendalian banjir. Selain membutuhkan biaya yang besar, kebijakan ini juga harus didasarkan pada penelitian, kajian teknis, serta koordinasi yang matang dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Tidak semua hal bisa kita andalkan dari modifikasi cuaca. Pemprov tentu menentukan waktu pelaksanaan OMC berdasarkan kajian dan koordinasi dengan BMKG,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yuke menilai, Pemprov DKI telah melakukan berbagai upaya dalam mengoptimalkan infrastruktur pengendali banjir, mulai dari perbaikan drainase skala mikro, pembangunan waduk dan polder, hingga penguatan tanggul pantai.

Namun ke depan, ia menekankan, pentingnya perhatian serius terhadap saluran air di kawasan permukiman padat penduduk yang kerap menjadi sumber persoalan.

“Justru di permukiman padat, masalahnya sering ada di saluran-saluran kecil. Sungai besar kita bermasalah, kali-kali kecil juga harus benar-benar diperhatikan dan dicarikan solusinya,” tandasnya.

BERITA TERKAIT
Masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) diperpanjang

Pramono Perpanjang Masa PJJ Sampai 1 Februari

Kamis, 29 Januari 2026 2345

Antisipasi Cuaca Ekstrem Esok Hari, Pemprov DKI Siapkan OMC

Cegah Banjir, Pemprov DKI Siapkan OMC hingga Siagakan 200 Ekskavator

Senin, 26 Januari 2026 1716

Gubernur DKI Jakarta bersama Wakil Menteri Pekerjaan Umum meninjau Pintu Air Cengkareng Drain

Infrastruktur Pengendali Banjir Cengkareng Drain Dipastikan Optimal

Jumat, 23 Januari 2026 1382

Hujan Lebat dan Merata Diprediksi Guyur Jakarta Hari Ini

Pramono Ungkap Curah Hujan Tinggi di Jakarta Capai 267 Milimeter per Hari

Jumat, 23 Januari 2026 1723

BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 3144

Pendataan pengadaan tanah MRT kwitang fakhri

Pendataan Awal Pengadaan Tanah MRT Thamrin-Kwitang Dimulai

Sabtu, 19 September 2026 1766

Pemadaman lampu hemat energi dok

Pemprov DKI Ajak Warga Hemat Energi Lewat Aksi 60 Menit Hari Ini

Sabtu, 19 September 2026 686

Kebakaran j65 jelambar jakbar budi

17 Unit Pemadam Tangani Kebakaran di Permukiman Padat Jelambar

Senin, 14 September 2026 1348

Dwi Rio Sambodo ketua pansus agraria ist

Pansus Reforma Agraria Matangkan Penyerahan Sertifikat Tanah Warga

Sabtu, 19 September 2026 580

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks