Kamis, 22 Januari 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 215
(Foto: doc)
Tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta menunjukkan adanya peningkatan pada awal tahun 2026.
"meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan DBD di masyarakat,"
Berdasarkan tren mingguan dari laporan data kasus di DKI Jakarta, sudah ada kenaikan kasus dibandingkan antara minggu ke-53 tahun 2025 sebanyak 69 kasus dengan minggu ke-1 tahun 2026 sebanyak 83 kasus.
Meski demikian, kenaikan tersebut belum setinggi apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu Januari 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengatakan, berdasarkan update data kasus DBD tahun 2026 hingga tanggal 19 Januari, tercatat sebanyak 143 kasus di Jakarta.
“Data tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan DKI Jakarta, terutama di tengah kondisi musim hujan yang masih berlangsung dan berpotensi meningkatkan risiko penularan DBD,” ujarnya, Kamis (22/1).
Ia menyampaikan, terkait faktor risiko peningkatan kasus DBD saat musim hujan, sampah yang tidak dikelola serta tanaman hias tertentu yang dapat menampung air, ditambah dengan tingginya curah hujan, dapat mengakibatkan banyaknya tempat-tempat penampungan air yang terbentuk.
“Kondisi tersebut dapat menjadi tempat berkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sehingga meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan DBD di masyarakat,” katanya.
Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta bersama Puskesmas terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran DBD, di antaranya melakukan sosialisasi tentang pentingnya pelaksanaan PSN 3M, yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Menguras, Menutup, dan Mendaur Ulang tempat-tempat yang dapat menampung air, baik melalui media sosial maupun secara langsung kepada masyarakat.
Selain itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga bekerja sama dengan Pamong, yaitu lurah dan camat, untuk secara rutin melakukan monitoring pelaksanaan PSN ke masyarakat bersama Jumantik atau Juru Pemantau Jentik.
“Upaya pencegahan diperkuat dengan meningkatkan intensitas pemantauan jentik menjadi dua kali seminggu yang dilakukan oleh Jumantik, sebagai langkah untuk menekan peningkatan kasus DBD di Jakarta,” tandasnya.