Kurangi Risiko Peningkatan Kasus COVID-19, Pemprov DKI Perpanjang Masa PSBB Transisi Fase I

Reporter : Rezki Apriliya Iskandar | Editor : Budhy Tristanto | Kamis, 16 Juli 2020 21:30 WIB | Dibaca 862 kali
Kurangi Risiko Peningkatan Kasus COVID-19, Pemprov DKI Perpanjang Masa PSBB Transisi Fase I (Foto : Istimewa / Beritajakarta.id)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta secara resmi memperpanjang masa PSBB Transisi Fase I hingga dua pekan ke depan. Menurut Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, keputusan yang diambil Pemprov DKI Jakarta tersebut berdasarkan pada berbagai masukan, data, dan analisis lintas sektor.

" Memperpanjang Fase 1 PSBB Transisi ini selama dua pekan ke depan,"

Pertama, Anies menyampaikan bahwa Jakarta memiliki data yang akurat karena jumlah tes yang dilakukan Pemprov DKI terus meningkat. WHO merekomendasikan dilakukan tes kepada 10.000 orang pada setiap 1 juta orang, per minggu. Dalam seminggu terakhir, di Jakarta telah dilakukan tes sebesar 3,6 kali lipat dari rekomendasi WHO.

“Berturut-turut dari 6 minggu lalu, jumlah tes kita per minggu adalah 1.991 orang per sejuta penduduk, 2.554 orang per sejuta, 2.806 orang per sejuta, 2.920 orang per sejuta, 3.194 orang per sejuta, dan seminggu terakhir adalah 3.610 per sejuta,” ucap Anies dalam keterangan pers daring, Kamis (16/7), seperti dikutip dari siaran pers PPID DKI Jakarta.

Sementara hasil tes PCR yang dilakukan pada 5 pekan terakhir, Jakarta sempat menunjukkan positivity rate di bawah 5 persen dan termasuk kategori ideal menurut WHO yaitu di bawah 5 persen. Namun pada minggu ke-6 atau seminggu terakhir, positivity rate di Jakarta meningkat 5,9 persen. Kondisi ini menurut Gubernur Anies harus diwaspadai, meski angka 5,9 persen masih di bawah rata-rata tren nasional.

“Selama lima minggu awal masa PSBB Transisi positivity rate mingguan di Jakarta berturut-turut adalah 4,4, 3,1, 3,7, 3,9 dan 4,8 persen. Selalu di bawah 5 persen. Namun di minggu terakhir ini positivity rate kita 5,9 persen. Sesudah lama kita di bawah 5 persen, seminggu terakhir ini kita naik sedikit di atas 5 persen. Masih di bawah rata-rata nasional sekitar 12 persen. Namun trennya naik dan sudah melewati rekomendasi WHO,” tambahnya.

Berikutnya Anies juga memaparkan data jumlah fasilitas kesehatan yang merupakan pertahanan terakhir dalam menghadapi virus COVID-19. Disampaikan bahwa saat ini Jakarta memiliki 4.556 tempat tidur isolasi COVID dan 659 ICU khusus COVID yang masih mencukupi untuk menangani kasus di Jakarta.

Namun demikian, dalam seminggu terakhir terjadi kenaikan Bed Occupancy Rate (BOR) di RS Rujukan COVID di Jakarta, dari 34 menjadi 45 persen. Angka ini masih di bawah setengah kapasitas yang terisi, namun naik 11 persen dalam seminggu terakhir. Sedangkan Bed Occupancy Rate utk ICU mengalami penurunan dari 31 persen menjadi 25 persen terisi dalam seminggu terakhir.

“Artinya, walau jumlah pasien dengan gejala berat alhamdulillah menurun, namun terjadi peningkatan jumlah pasien dengan gejala ringan dan sedang, dikarenakan agresifitas Dinas Kesehatan dalam melakukan active case finding ke masyarakat untuk kemudian dilakukan isolasi dan perawatan,” lanjutnya.

Data selanjutnya adalah nilai Reproduction Number Time (Rt) di Jakarta yang juga mengalami peningkatan dari sebelumnya di bawah 1, kini naik menjadi 1,15 per tanggal 12 Juli. Rt 1 artinya 1 orang positif menularkan ke 1 orang lain. Rt 1 bermakna jumlah wabah berkisar tetap, tidak dalam tren menaik maupun turun. Semakin Rt di bawah 1, maka semakin cepat wabah menurun, semakin tinggi Rt di atas 1, maka semakin cepat wabah menyebar.

“Berdasarkan data-data ini maka tampak bahwa masih terlalu berisiko bila kita melonggarkan Fase 1 PSBB Transisi dan berpindah ke Fase 2. Untuk itu Gugus Tugas DKI Jakarta memutuskan untuk kembali memperpanjang Fase 1 PSBB Transisi ini selama dua minggu ke depan. Kita belum bisa beralih ke Fase 2,” tegas Anies.

Guna terus menekan berbagai indikator epidemilogi penyebaran COVID-19, Anies mengingatkan kembali kepada warga Jakarta untuk serius memastikan protokol kesehatan dijalankan dengan ketat. Terlebih 66 % kasus positif merupakan kasus orang tanpa gejala sehingga prinsip-prinsip tidak keluar rumah bila tidak perlu, seluruh tempat beroperasi dalam setengah kapasitas, selalu memakai masker bila terpaksa berkegiatan di luar, rajin cuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak 1-2 meter harus terus diingat dan ditetapkan oleh seluruh warga.

“Kepada seluruh warga saya ingatkan, terus disiplin menerapkan protokol kesehatan di manapun kita berada. Terus saling mengingatkan bila ada orang di sekitar kita yang tidak menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Mungkin kita lelah, mungkin kita bosan tapi masalahnya kita berhadapan dengan musuh yang tidak pernah lelah. Maka kita pun harus tetap bersemangat, saling menyemangati dalam menjalani PSBB Transisi ini,” pesannya.

TOP