Apresiasi Layanan Kesehatan Jemput Bola

Minggu, 05 Juli 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Andry 157

Di usianya yang akan memasuki 500 tahun, Kota Jakarta terus berupaya membenahi layanan kesehatan. Upaya menghadirkan layanan kesehatan yang mudah dijangkau di kota padat penduduk dan mobilitas tinggi bukan perkara mudah.

Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai mengembangkan berbagai layanan berbasis jemput bola seperti Home Care Pasukan Putih, Ambulans 119, hingga layanan antar-obat bagi pasien.

Di balik transformasi tersebut, Komisi E DPRD DKI Jakarta turut mengawal kebijakan, penganggaran, dan regulasi agar layanan kesehatan semakin merata dan berkualitas.

Untuk mengetahui bentuk dukungan dari legislatif dalam bidang kesehatan, berikut petikan wawancara khusus beritajakarta.id bersama Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, M. Subki.

Image
Image
Q:Belakangan ini banyak warga mengapresiasi layanan Home Care Pasukan Putih dan Ambulans 119, terutama bagi lansia dan penyandang disabilitas. Bagaimana Komisi E melihat layanan jemput bola ini?
A:Kehadiran Pasukan Putih sebenarnya merupakan usulan resmi Komisi E kepada Dinas Kesehatan. Kami melihat masih banyak masyarakat yang memiliki keluhan kesehatan, tetapi tidak berani, tidak terbiasa, atau memang secara fisik tidak mampu datang ke puskesmas, terutama mereka yang menderita penyakit berat. Karena itu, pelayanan kesehatan harus hadir mendatangi masyarakat. Alhamdulillah, usulan tersebut direspons Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan dengan membentuk Pasukan Putih.
Q:Sejauh mana kehadiran Pasukan Putih berdampak terhadap pendataan kesehatan masyarakat?
A:Dampaknya sangat besar, terutama dalam mendeteksi penyakit seperti tuberkulosis (TBC). Banyak warga yang sebelumnya enggan mengungkapkan kondisinya. Namun, melalui pendekatan persuasif yang dilakukan Pasukan Putih secara langsung, data kesehatan menjadi lebih lengkap dan akurat. Kami sangat mengapresiasi upaya jemput bola ini.
Q:Bagaimana dengan kinerja Ambulans 119, khususnya terkait waktu respons di kawasan padat penduduk?
A:Tahun lalu kami menyetujui penambahan armada ambulans dalam jumlah yang cukup signifikan. Hal itu merupakan respons atas tingginya kebutuhan masyarakat, baik untuk layanan rujukan ke rumah sakit maupun layanan jenazah. Kami juga memberikan target waktu respons kepada petugas agar sebisa mungkin tidak lebih dari 30 menit. Orang sakit tidak boleh menunggu terlalu lama. Secara umum layanan berjalan baik, meski kami menyadari masih ada beberapa kasus keterlambatan akibat kemacetan, terutama pada jam-jam sibuk.
Q:Di sisi lain, masyarakat berharap jumlah personel Pasukan Putih ditambah, termasuk dukungan alat kesehatan portabel dan peningkatan insentif tenaga kesehatan. Bagaimana Komisi E menyikapi kebutuhan tersebut di tengah kondisi fiskal yang cukup ketat?
A:Kebutuhan masyarakat memang sangat besar karena kesehatan merupakan kebutuhan dasar. Kami tentu ingin terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas pelayanan, termasuk menambah personel Pasukan Putih. Namun, kami juga harus realistis melihat kondisi keuangan daerah yang saat ini mengalami penurunan. Efisiensi tetap harus dilakukan sehingga belanja daerah perlu dijaga. Meski demikian, apabila ruang fiskal membaik pada APBD Perubahan, pemenuhan alat kesehatan portabel hingga tingkat Posyandu sangat memungkinkan untuk menjadi prioritas.
Q:Saat ini DPRD dan Pemprov DKI tengah membahas Raperda Sistem Kesehatan Daerah (Siskesda). Bagaimana regulasi ini nantinya dapat memperkuat layanan kesehatan yang terintegrasi?
A:Target kami memang mengarah ke sana. Melalui data yang dihimpun Pasukan Putih di tingkat masyarakat, tenaga kesehatan dapat memberikan penanganan yang lebih tepat sasaran. Komisi E terus mendorong sinkronisasi antara Pasukan Putih, puskesmas di tingkat kelurahan dan kecamatan, hingga rumah sakit daerah agar pelayanan kesehatan menjadi satu sistem yang terintegrasi dan berkesinambungan.
Q:Salah satu inovasi yang kini banyak dibicarakan adalah layanan pengantaran obat ke rumah pasien. Seberapa penting terobosan ini?
A:Ini merupakan terobosan yang sangat baik. Selama ini pasien harus mengantre lama untuk pemeriksaan, kemudian kembali mengantre di apotek rumah sakit untuk mengambil obat. Sekarang, setelah resep dikonfirmasi oleh apotek rumah sakit, pasien dapat langsung pulang dan beristirahat. Obat kemudian diantar ke rumah. Kami sangat mengapresiasi rumah sakit yang telah menjalankan layanan ini dengan baik karena benar-benar memudahkan masyarakat.
Q:Menyongsong usia Jakarta yang memasuki lima abad, seberapa optimistis Komisi E melihat masa depan layanan kesehatan di ibu kota?
A:Kami sangat optimistis. Transformasi pelayanan kesehatan terus bergerak melalui lahirnya berbagai inovasi, penguatan regulasi, serta komitmen Pemprov DKI Jakarta. Dalam waktu dekat juga direncanakan pembangunan sejumlah fasilitas kesehatan baru, mulai dari rumah sakit berskala nasional hingga internasional. Seluruh upaya ini bermuara pada satu tujuan, yakni memastikan masyarakat Jakarta menyongsong usia baru kotanya dengan kondisi yang semakin sehat, baik lahir maupun batin.

Wawancara Khusus Lainnya

Cegah Superflu Masuk Jakarta

Cegah Superflu Masuk Jakarta

Apresiasi Layanan Kesehatan Jemput Bola
Apresiasi Layanan Kesehatan Jemput Bola