BPS DKI: Tingkat Kemiskinan di Jakarta Turun

Senin, 17 Januari 2022 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Andry 4198

BPS DKI : Tingkat Kemiskinan di DKI Mulai Menurun

(Foto: Aldi Geri Lumban Tobing)

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat tingkat kemiskinan di Ibukota sebesar 4,67 persen atau 498,29 ribu orang pada periode September 2021.

Persentase penduduk miskin di Jakarta pada September 2021 turun

Angka kemiskinan tersebut mengalami penurunan sebesar 0,05 persen atau 3,63 ribu orang dari periode Maret 2021.

Kepala BPS DKI Jakarta, Anggoro Dwitjahyono mengatakan, angka kemiskinan di Jakarta mulai menurun setelah mengalami kenaikan selama dilanda pandemi COVID-19.

“Persentase penduduk miskin di Jakarta pada September 2021 turun sebesar 0,05 dan 0,02 persen poin dibandingkan Maret 2021 dan September 2020," ungkapnya, Senin (17/1).

Anggoro menilai, kondisi ini tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga yang terlihat dari angka inflasi.

"Di samping itu ada peningkatan daya beli dari masyarakat karena naiknya pendapatan secara umum," terangnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya mengukur kemiskinan dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).

Melalui pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan yang bukan diukur dari sisi pengeluaran.

Penduduk dikategorikan miskin jika memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

"Garis kemiskinan mencerminkan nilai rupiah pengeluaran minimum yang diperlukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya sebulan," jelasnya.

Menurut Anggoro, garis kemiskinan terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

GKM merupakan nilai pengeluaran minimum untuk kebutuhan makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita per hari.

Paket komoditas kebutuhan dasar makanan diwakili 52 jenis komoditi seperti padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur, susu, sayuran, minyak, kacang-kacangan serta buah-buahan.

Sementara GKNM merupakan nilai pengeluaran minimun untuk kebutuhan non makanan berupa perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditas kebutuhan dasar non makanan diwakili 51 jenis komoditas di perkotaan dan 47 jenis komoditas di pedesaan.

“Beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kemiskinan yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk, indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan,” tandas Anggoro.

BERITA TERKAIT
Indeks Harga Konsumen di Jakarta Alami Inflasi Rendah

Perekonomian di Jakarta Membaik

Jumat, 03 September 2021 3994

BPS DKI Rilis Perkembangan Inflasi hingga Ekspor dan Impor

BPS DKI Rilis Perkembangan Inflasi hingga Ekspor dan Impor 

Senin, 03 Januari 2022 4193

DKI Jakarta Raih Posisi Pertama Provinsi Paling Demokratis Empat Tahun Berturut-turut

DKI Jakarta Raih Posisi Pertama Provinsi Paling Demokratis Empat Tahun Berturut-turut

Jumat, 03 September 2021 2453

BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7146

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4835

Mobil patah as budi

Petugas Dishub Evakuasi Mobil Patah As Roda di Cengkareng

Senin, 02 November 2026 2369

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2538

Binamarga penertiban kabel udara sunter jakut jati

5,6 Kilometer Kabel Udara di Tanjung Priok Dipindah ke SJUT

Senin, 02 November 2026 1194

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks