Bagi warga Solo ataupun penggemar makanan khas kota Solo, nama nasi langgi mungkin sudah tak asing lagi terdengar ditelinga. Ya, jika di kota asalnya, kita tentu tidak akan kesulitan mencari nasi legit yang disajikan beserta lauk pauk komplet dalam satu piring.
Nah, bagi Anda warga Jakarta, yang ingin menikmati makanan ini tentu tak perlu repot-repot harus datang ke Solo. Sebab, di rumah makan Dapur Solo yang terletak di Jl Danau Sunter Utara, Blok R no 35-37, Sunter Agung, Tanjung Priok bisa menjadi alternatif bagi Anda yang ingin mencicipi nasi langgi atau makanan khas Solo lainnya.
Di rumah makan yang didirikan Swandani Kumarga (52) atau biasa disapa Nyonya Swan, ciri khas masakan Jawa yang terkenal dengan rasa manis, sudah disesuaikan dengan selera masyarakat Metropolitan yang tidak terlalu suka masakan sarat rasa manis.
Dalam menyajikannya, Nyonya Swan melakukan berbagai modifikasi, namun tetap menjaga kekhas-an nasi langgi. Nasi langgi berbentuk nasi tumpeng berwarna kuning yang legit ini disajikan bersama ayam goreng, ikan teri, sambal goreng kentang, daging empal, telur dadar, abon sapi, serundeng kelapa, kering kentang, kerupuk udang, lalap serta tak ketinggalan sambal.
Meski rasa manis sudah tidak lagi mendominasi, variasi bumbu khas Jawa tetap menjadi sensasi tersendiri bagi lidah penggila kuliner. Kegurihan rasa dan kelegitan nasinya merupakan kekuatan utama menu yang dinamakannya Nasi Langgi Kuning Spesial.
Disantap bersama sambal goreng kentang teri memberikan sensasi gurih, pedas dan sedikit asam manis di lidah. Rasa itu semakin komplet dengan kerenyahan ayam goreng dengan bumbu spesial. "Untuk menambah aroma dan warna kuning pada nasi, saya tambahin kunyit. Sedangkan kerenyahan ayam karena saya tambahkan kemiri dalam bumbunya," ungkap Nyonya Swan, Sabtu (8/3).
Menurut wanita asal Solo ini, dirinya tidak memiliki bumbu rahasia dalam menyajikan masakan di rumah masakannya tersebut. Hanya, diakui ketepatan komposisi bumbu Jawa dan dikurangi rasa manis merupakan khas masakan rumah makan yang khusus menyajikan makanan Jawa ini. "Kalau di Jakarta orang tidak terlalu suka manis. Makanya kita sesuaikan rasa dengan lidah konsumen," ujarnya.
Kesuksesan yang Berawal dari Garasi.
Rumah Makan Dapur Solo saat ini tidak hanya terdapat di Blok R no 35-37, Jl Danau Sunter Utara saja. Di Jl Danau Sunter Utara No 7, pada pertengahan tahun lalu telah dibuka satu gerai makanan serupa. Sebelumnya, cabang lain sudah ada di Jl Panglima Polim 1 No 95 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dan Ruko Melati Mas Square, Blok A1 No 22-23 Jl Raya Serpong, Tangerang.
Bila melihat kemegahan rumah makannya, siapa sangka bahwa dalam merintis usaha, Swan berangkat dari berjualan rujak di garasi rumahnya. Namun kini, omset dari 4 rumah makan yang dibukanya mencapai milliaran rupiah per bulan. "Setiap bulan saya bayar pajak ratusan juta rupiah. Satu cabang saja bisa mencapai Rp 100 juta pajak yang saya setor setiap bulan," kata Swan.
Istri dari Heru Kumarga ini mengisahkan bagaimana ia membangun Dapur Solo. Sekitar tahun 1986, untuk mengisi kejenuhannya sebagai ibu rumah tangga yang memiliki banyak waktu luang, ia berinisiatif membuka usaha. Saat itu, garasi rumahnya di komplek Sunter Paradise, Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok diubah menjadi warung rujak buah dan jus.
Dalam menjalankan usahanya, Swan tidak pernah melakukannya setengah-setengah. Untuk promosi, setiap sore, ibu satu anak ini menyebarkan brosur jualannya di sekeliling komplek. "Sambil momong anak saya nyebarin brosur. Itu cuma saya tulis tangan dengan spidol kemudian saya foto kopi seratus lembar," kenang Swan.
Seiring dengan promosi yang dilakukan, orang pun semakin mengenal rujak Bu Swan, sehingga semakin banyak orang yang datang untuk mencicipi rujaknya. Namun, itu hanya berlangsung sekitar 3 bulan saja. Konsumennya yang saat itu memang hanya seputaran komplek tempat tinggal mulai merasa jenuh. "Sedangkan kita hanya usaha kecil-kecilan yang minim modal, untuk mempertahankan usaha saya harus puter akal. Makanya saya tambahin gado-gado," ujarnya.
Setelah menambah menu gado-gado, usahanya kembali bergairah. Tapi, serupa dengan saat berjualan rujak, ramainya usaha Swan juga tidak berlangsung lama. Beberapa bulan kemudian ia kembali terpaksa memutar otak untuk menjaga kelangsungan usaha.
Mulailah dari sekitar tahun 1988 ia menambah ragam variasi masakannya dengan nasi pecel, ayam goreng, gudeg dan nasi langgi. Usahanya ternyata semakin membuahkan hasil. Warungnya yang terdapat di garasi rumah semakin ramai dikunjungi, terutama saat jam makan.
"Makanya saya putuskan untuk mencicil ruko di Jl Danau Sunter Utara Blok R no 21 sebagai tempat usaha. Tahun 1990 saya mulai buka di sana dengan nama Rumah Makan Solo," katanya.
Usaha yang dilakoninya terus bergulir seiring waktu dan perkembangan zaman. Krisis moneter yang banyak menghantam para pelaku usaha tidak lantas membuatnya mundur. bahkan Rumah Makan Solo yang dikelolanya mengalami peningkatan omset hingga 30 persen. Saat itu, omset rumah makan yang dikelolanya mencapai Rp 100 ribu perhari.
"Makanya suami saya akhirnya memilih mundur dari tempatnya bekerja sebagai manajer di salah satu developer terkemuka. Dengan bantuan suami, usaha saya semakin membuat manajemen menjadi tertata, karena saya kan gak ahli manajemen," tuturnya.
Dengan turut berkecimpungnya sang suami ke dalam usaha pada tahun 2004 membuat beberapa perubahan. Diantaranya dengan merubah nama menjadi Dapur Solo yang dipatenkan setahun kemudian. Tidak cukup sampai di situ, penataan konsep dan menu pun mulai distandarisasi sehingga tahun 2006 mulai seperti Dapur Solo saat ini.
Di Dapur Solo saat ini, terdapat sedikitnya 35 menu makanan yang di sajikan. Mulai dari kudapan seperti combro, surabi solo, rujak buah, hingga sajian makanan utama seperti nasi langgi kuning spesial, asem-asem iga, lontong solo, sop buntut, rawon komplet, nasi gudeg jogja dan berbagai sajian wedang. Harga yang dibaderol pun relatif terjangkau kantong, mulai Rp 3.500 - Rp 50.000.
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
Lapak Bensin Eceran di Jl Hadiah Utama Ditertibkan
Senin, 02 Februari 2026
3944
Rano Pastikan Perbaikan Jalan Rusak Terus Dilakukan
Selasa, 03 Februari 2026
482
Hujan Merata Diprakirakan Basahi Jakarta Hari Ini
Senin, 02 Februari 2026
739
BPS Catat DKI Alami Deflasi 0,23 Persen Selama Januari 2026