Ciliwung, Urat Nadi Transportasi Air yang Terlupakan

Jumat, 07 Februari 2014 Reporter: Nurito Editor: Dunih 7578

Ciliwung_new.jpg

(Foto: doc)

Setiap menyebut nama Ciliwung, warga Jakarta selalu mengaitkannya dengan banjir. Maklum, kondisi Ciliwung yang makin dangkal dan menyempit akibat banyaknya bangunan, membuat airnya selalu meluap hingga ke pemukiman warga. Padahal, sebelum kondisinya sangat memprihatinkan seperti saat ini, Ciliwung yang membentang dari Bogor, Jawa Barat, dan bermuara ke laut Jawa dulunya menjadi urat nadi transportasi dan jalur niaga bagi warga Jabodetabek.

Kali Ciliwung sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang dan menyimpan banyak cerita. Dalam sejarahnya, Ciliwung terbentuk lantaran adanya letusan Gunung Gede dan Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat, pada ribuan tahun silam. Dari letusan itu keluar lahar panas yang mengalir ke dataran lebih rendah, hinggga akhirnya terbentuk sebuah celah-celah. Kemudian adanya gempa tektonik, celah itu berubah menjadi sebuah aliran kali atau sungai. Dengan kata lain, Ciliwung terbentuk karena faktor alam.

Semula, lebar kali Ciliwung dari hulu hingga hilir rata-rata mencapai 50 meter. Kondisi ini sama dengan Kali Citarum. Namun, karena jalur Kali Ciliwung lebih pendek dan selalu membawa sampah serta endapan lumpur maka Ciliwung kerap terjadi sedimentasi di beberapa titik. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya warga mendirikan bangunan di bantaran Ciliwung.

Pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali mengatakan, dahulu sejak abad ke-1 sebelum Masehi, Ciliwung dijadikan jalur transportasi air. Yakni menggunakan perahu dan getek. Bahkan, Ciliwung juga jadi tempat transaksi perdagangan. Selain itu, juga sebagai pembatas wilayah sekaligus benteng pertahanan saat pemerintahan Belanda.

Pada tahun 1619, oleh VOC Kali Ciliwung ini banyak disodet. Seperti ada yang mengalir ke Cakung Cilincing, Pasar Baru, Gajah Mada dan sebagainya. Ada pula yang diluruskan hingga mengalir secara horisontal. Demikian halnya pada tahun 1934-1936, oleh kontraktor asal Tionghoa, kali ini diluruskan dan dinamai Kali Besar. Kontraktor Tionghoa ini bekerja karena menang tender saat kolonial Belanda berkuasa.

Dengan banyaknya sodetan dan jalurnya ada yang diluruskan, secara otomatis bagian-bagian Kali Ciliwung ini memiliki nama berbeda. Seperti Gunung Sahari, Kali Baru, Cideng dan sebagainya. Pemecahan ini sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir yang meluap dari Kali Ciliwung.

"Dulu posisi rumah kebanyakan menghadap ke kali. Karena warga dapat melihat transaksi atau jual beli di atas kali. Kondisi ini menjadi pemandangan keseharian bagi warga saat itu. Namun, sekarang sudah berbalik, posisi rumah membelakangi kali. Karena kondisinya sudah berubah drastis," ujar Asep Kambali kepada beritajakarta.com, Jumat (7/2).

Asep menyebut, sekitar tahun 1900-1940-an, fungsi Ciliwung sudah mulai banyak berubah. Air yang mengalirnya pun keruh, kecoklatan dan banyak sampah. Namun, masih banyak perusahaan binatu yang mencuci pakaian atau kain di sepanjang aliran Ciliwung. Kemudian masih banyak transaksi perniagaan di atas air. Mulai dari bisnis kayu jati, bambu, pasir, meubel dan sebagainya.

Kemudian sejak awal kemerdekaan RI, banyak terjadi transmigrasi. Warga dari berbagai pelosok negeri ramai-ramai melakukan urbanisasi ke ibu kota untuk merubah nasib. Namun, sayangnya di antara mereka membangun rumah di bantaran Ciliwung.

Asep Kambali menyebutkan, pada tahun 1960 kedalaman Kali Ciliwung masih berkisar 5-10 meter. Sebab saat masih era kolonial Belanda, Ciliwung ini dibuat standar untuk benteng pertahanan perang. Lebarnya pun mencapai 50 meter. Tujuannya agar orang-orang yang menyeberang Ciliwung ini tenggelam.

Namun, saat ini kondisinya sudah berubah drastis. Lebar Ciliwung maksimal rata-rata hanya 20 meter. Kedalamannya pun hanya berkisar 2-3 meter. Ini karena banyak terjadi sedimentasi akibat banyaknya sampah yang terbawa arus Ciliwung. Sedimentasi tak hanya di pinggiran, tapi di tengah juga terjadi. Tak heran jika kondisi ini memicu terjadinya banjir setiap musim hujan. Karena Ciliwung tak mampu lagi menampung debit air yang ada.

"Jadi sebenarnya dari dulu itu kita tidak pernah mengenal istilah banjir kiriman. Banjir itu sendiri sebenarnya juga bisa diatasi dengan teknologi canggih, seperti pembuatan deep tunel," jelas Asep.

Menurutnya, daratan DKI Jakarta saat ini posisinya 2,5 meter berada di bawah permukaan laut. Karenanya saat Ciliwung meluap maka terjadi banjir.

Kini Ciliwung yang dulunya sebagai sarana transportasi air dan niaga telah hanyut dalam ingatan sejarah, seperti hanyutnya sampah yang setiap hari dibawa oleh arus Ciliwung. 
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
IMG 20260202 WA0102

Lapak Bensin Eceran di Jl Hadiah Utama Ditertibkan

Senin, 02 Februari 2026 3890

Rano tinjau Jalan Rusak Thamrin jati

Rano Pastikan Perbaikan Jalan Rusak Terus Dilakukan

Selasa, 03 Februari 2026 453

Cuaca Hujan Jati jakarta bmkg

Hujan Merata Diprakirakan Basahi Jakarta Hari Ini

Senin, 02 Februari 2026 738

Cabai Pasar Induk Kramat Jati Otoy

BPS Catat DKI Alami Deflasi 0,23 Persen Selama Januari 2026

Senin, 02 Februari 2026 648

Masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) diperpanjang

Pramono Perpanjang Masa PJJ Sampai 1 Februari

Kamis, 29 Januari 2026 1136

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks