Modifikasi Cuaca Mulai Dilakukan

Selasa, 14 Januari 2014 Reporter: Erna Martiyanti Editor: Erikyanri Maulana 4239

hujan_lebat_jkt_ilus.jpg

(Foto: doc)

Upaya mengurangi curah hujan di ibu kota dengan teknologi modifikasi cuaca mulai dilakukan. Langkah ini dilakukan setelah Pemprov DKI memberlakukan siaga darurat banjir pada Senin (13/1). Hal ini juga sebagai antisipasi puncak hujan yang diprediksi berlangsung Januari - Maret 2014.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pihaknya diperintahkan untuk terus memberikan pendampingan kepada Pemprov DKI dalam penanganan banjir.

Dalam penanganan banjir di Jakarta, kata Sutopo, pihaknya menerapan tiga operasi yakni penanganan sungai, penanganan pengungsi, dan pengendalian cuaca melalui modifikasi cuaca. "Intinya teknologi modifikasi cuaca adalah merekayasa cuaca untuk mendistribusikan hujan. Untuk antisipasi banjir di Jakarta, ada dua strategi yaitu mempercepat hujan dan menghambat pertumbuhan awan," ujar Sutopo, Selasa (14/1).

Untuk menerapkan teknologi modifikasi cuaca, akan dikerahkan satu pesawat hercules milik TNI yang mampu membawa 8 ton garam dari Bandara Halim Perdanakusuma. Lalu, dua pesawat Casa 212-200 dioperasikan dari Lapangan Terbang Atang Sanjaya Bogor. "Sekali terbang pesawat Casa membawa 1 ton garam. Dalam sehari penerbangan disesuaikan dengan kondisi cuaca yang ada," katanya.

Ditambahkan Sutopo, BNPB mengkoordinir BPPT, BPBD DKI Jakarta, Kemen PU dan BMKG dalam pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca yang menelan biaya hingga Rp 20 miliar. Dalam hal ini, BNPB siap menanggung semua dana tersebut yang diambil dari dana siap pakai BNPB. Sebab, Pemprov DKI masih kesulitan lantaran APBD DKI Jakarta hingga kini belum disetujui DPRD DKI.

Dengan modifikasi cuaca, diharapkan intensitas hujan di Jakarta turun hingga 35 persen dari hujan normal. Biaya Rp 20 miliar untuk modifikasi cuaca terbilang kecil jika dibandingkan dengan dampak kerusakan dan kerugian akibat banjir di Jakarta.

Selain itu, untuk mendukung operasional juga dikerahkan dua radar cuaca. Ditambahkan Sutopo, tidak ada dampak lingkungan dari TMC, baik kualitas air hujan maupun berkurangnya pasokan air. Kondisi tanah Jakarta sudah jenuh air pada musim penghujan dan hanya mengurangi potensi hujannya. Bahan yang digunakan tidak akan mencemari air hujan.

BNPB dan BPPT telah berpengalaman menerapkan teknologi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi banjir. Seperti saat penyelenggaraan SEA GAMES di Palembang (2011), PON di Riau (2012), Pekan Olahraga Negara-Negara OKI (2013), antisipasi banjir Jakarta Januari-Februari 2013, dan antisipasi banjir lahar dingin di Merapi 2013.

BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
IMG 20260728 WA0142

85 Peserta Sekolah Lansia di Jakut Diwisuda

Selasa, 28 Juli 2026 9259

Pemkot Jaktim Fasilitasi Evy Tinggal di Rusun Pulo Gebang

Pemkot Jaktim Fasilitasi Evy Tinggal di Rusun Pulo Gebang

Jumat, 31 Juli 2026 3227

Operasi Lintas Jaya Jaktim nur

14 Kendaraan Kedapatan Parkir Liar di Jaktim Ditindak

Selasa, 28 Juli 2026 3647

MRT Jakarta Jalin Kerja Sama Peningkatan Layanan Pengumpulan Tarif Otomatis Fase 1 Lin Utara Selatan

MRT Jakarta Sepakati Kerja Sama Peningkatan Layanan Sistem Pengumpulan Tarif Otomatis

Rabu, 29 Juli 2026 1943

IMG 20260731 WA0041

Area Kumuh Sekitar Terminal Tanjung Priok Ditata Jadi Taman

Jumat, 31 Juli 2026 1512

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks