Minggu, 01 November 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 426
(Foto: Budhi Firmansyah Surapati)
Event Bincang Pagi dalam rangkaian kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) Provinsi DKI Jakarta mengadirkan talkshow inspiratif bertajuk perjalanan 24 tahun Car Free Day (CFD) di ruang terbuka Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (1/11).
Diskusi itu membahas peran dari HBKB atau CFD yang dicanangkan tahun 2002 lalu, telah berevolusi dari sekadar kebijakan pembatasan kendaraan bermotor menjadi fenomena sosial yang merangkul olahraga, seni, kuliner, dan edukasi lingkungan.
CFD bagian dari identitas Jakarta
Ketua Panitia Kegiatan, M. Ageng memgatakan, perjalanan 24 tahun CFD harus menjadi momentum strategis menyongsong lima abad Kota Jakarta sebagai kota budaya. Sekaligus mengukuhkan ruang kota yang sehat dengan kualitas udara yang semakin baik.
"Bukan sekadar acara mingguan, CFD adalah bagian dari identitas Jakarta. Menjelang 5 abad kota ini, CFD harus menjadi titik temu budaya, olahraga, dan kesadaran lingkungan," ujarnya.
Diyakini Ageng, CFD mampu berperan mendorong Jakarta sebagai kota budaya global, tempat unsur budaya, aktivitas olahraga, dan isu lingkungan berintegrasi membentuk identitas masyarakat urban yang tetap berkarakter.
Karena itu, menurutnya menjaga khittah CFD adalah keniscayaan dan tanggung jawab kolektif seluruh pemangku kepentingan, termasuk peran aktif dunia swasta.
Melalui sinergi lintas sektoral, diharapkan Ageng, CFD terus konsisten menjadi katalisator pembangunan kota yang berkelanjutan, inklusif, dan berwawasan lingkungan demi masa depan Jakarta yang lebih hijau.
"Menjaga khittah CFD berarti memastikan ia tetap menjadi ruang publik yang bebas polusi, inklusif, dan berbudaya, bukan sekadar ajang dagang atau hiburan semata," tegasnya.
Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin menggarisbawahi, selama lebih dari dua dekade penyelenggaraan CFD telah bertransformasi menjadi pemicu utama pembentukan gaya hidup masyarakat perkotaan. Perubahan paradigma mobilitas masyarakat menuju orientasi ramah lingkungan itu menurutnya tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui konsistensi dan keteladanan yang dibangun CFD selama 24 tahun.
"CFD terbukti menjadi ruang publik yang sangat efektif untuk membangun kesadaran kolektif. Orang datang untuk berolahraga, tetapi pulang membawa kesadaran baru tentang udara bersih dan mobilitas ramah lingkungan," tuturnya.
Sedangkan Sekretaris Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Renny Dwi Astuti yang hadir menjadi salah satu narasumber, memaparkan pentingnya akselerasi program transportasi publik yang terus diintegrasikan di Jakarta. Sinergi antarmoda—dari MRT, LRT, TransJakarta, hingga angkutan pengumpan—dirancang untuk menekan emisi kendaraan pribadi secara sistematis.
"Integrasi antarmoda bukan hanya soal kenyamanan, tetapi strategi jangka panjang menurunkan ketergantungan pada kendaraan pribadi. Setiap perjalanan yang beralih ke transportasi publik adalah kontribusi nyata bagi kualitas udara Jakarta," ujarnya.
Reny juga menyoroti efektivitas layanan dan fasilitas khusus Lansia selama CFD berlangsung. Program ramah lanjut usia ini menurutnya terbukti mendapat sambutan positif dan berjalan efektif dalam memberikan ruang mobilitas yang inklusif serta aksesibel bagi seluruh lapisan masyarakat.
"CFD harus menjadi ruang yang ramah bagi semua, termasuk lansia dan penyandang disabilitas. Inklusivitas adalah ukuran keberhasilan sebuah ruang publik," tambahnya.
Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Triyana menegaskan komitmen instansinya mengoptimalkan perbaikan kualitas udara perkotaan.
Peran CFD yang juga dilaksanakan di berbagai wilayah kota administrasi, menurut Triyana, tidak hanya berfungsi sebagai instrumen mitigasi polusi, tetapi juga dimanfaatkan strategis untuk mendorong gerakan masif pilah sampah dari sumbernya.
Ditambahkannya, kesadaran ekologis masyarakat urban perlu ditumbuhkan secara komprehensif dan tidak hanya melalui kampanye, tetapi juga melalui keteladanan di ruang publik seperti CFD.
Diyakinkannya, CFD telah berperan menjadi salah satu pemicu gaya hidup sehat dan berkelanjutan masyarakat.
"CFD adalah momen edukasi lingkungan yang paling efektif karena masyarakat hadir dengan sukarela. Di sinilah kami menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah," tandasnya.