Rabu, 14 Oktober 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 189
(Foto: Bilal Nugraha Ginanjar)
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, membuka secara resmi Festival Pusta Karsa (Perputakaan, Kearsipan dan Sastra) di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/10).
Kegiatan yang diisi rangkaian workshop literasi, bincang buku, pentas baca, pameran kearsipan dan malam anugerah HB Jasin, akan berlangsung mulai Rabu (14/10) hingga Kamis (22/10) mendatang.
Budaya membaca dapat diperkenalkan melalui cara-cara kreatif
Dikatakan Rano, kegiatan ini bisa jadi ruang memperkuat budaya literasi, menjaga sejarah dan mengembangkan dunia sastra.
"Saya menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini sebagai ruang untuk memperkuat budaya literasi, menjaga sejarah, dan mengembangkan sastra sebagai bagian dari identitas Jakarta sebagai kota global," ujar Rano.
Ditegaskan Rano, Jakarta tidak cukup hanya maju secara ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga harus didukung masyarakat yang berpengetahuan, kreatif dan berbudaya.
Karena itu, menurut Ranp, literasi, kearsipan, dan sastra memiliki peran penting dalam membangun masyarakat tersebut
Literasi dan kearsipan, tegas Rano, membantu untuk memahami masa lalu, memperluas wawasan, serta menyiapkan generasi yang mampu menghadapi masa depan.
"Saya bersyukur, upaya pembangunan manusia di Jakarta menunjukkan hasil yang positif," ucapnya.
Rano menjelaskan, Indeks Pembangunan Manusia atau IPM Jakarta tahun 2025 mencapai 85,05 persen dan indeks budaya literasi mencapai 78,76 persen, serta aktivitas membaca masyarakat Jakarta tercatat 82,49 persen.
Capaian ini, menurutnya, patut disyukuri sekaligus menjadi dorongan untuk memperluas akses pengetahuan dan menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian masyarakat.
Festival ini dikatakan Rano, juga menjadi ruang apresiasi bagi para penerbit, perangkat daerah BUMD atas kinerja pengelolaan kearsipan serta para arsiparis teladan.
Sementara penganugerahan Piagam H.B. Jassin 2026 akan menjadi bentuk penghargaan atas karya dan kontribusi dalam dunia sastra Indonesia.
Kemudian, Rano menegaskan perlunya terus mencari cara agar pengetahuan semakin dekat dan menarik bagi masyarakat, terutama generasi muda.
"Budaya membaca dapat diperkenalkan melalui cara-cara kreatif seperti ulasan buku digital, vlog, dan reel," tuturnya.
Lalu, sejarah menurut Rano juga dapat dikemas dengan pendekatan yang menarik agar generasi muda tidak hanya mengenal masa lalu, tetapi juga memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaganya.
Upaya tersebut dapat diperkuat melalui penerapan konsep GLEM (Galeri, Perpustakaan, Arsip, dan Museum).
Sebab itu, Rano mengatakan kolaborasi dengan galeri seni dan museum di Jakarta perlu terus didorong, antara lain dengan memadukan arsip sejarah bersama pameran dan karya visual.
Dengan demikian, menurutnya sejarah kota tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dinikmati dan dipelajari masyarakat melalui ruang publik yang edukatif dan interaktif.
Menjelang 5 abad Jakarta, Rano mengajak semua pihak untuk terus membangun kota yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga kaya akan pengetahuan, menghargai sejarah, dan memberi ruang bagi tumbuhnya kreativitas warga.
"Semoga festival ini semakin menumbuhkan kegemaran membaca, memperkuat kepedulian terhadap arsip, dan menghidupkan sastra sebagai bagian dari perjalanan Jakarta menuju kota global yang berbudaya," tandasnya.