Rabu, 14 Oktober 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 109
(Foto: Nugroho Sejati)
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Muhammad Al Fatih mendukung pelaksanaan Gerakan Bersama Atasi Kemacetan Pagi (Gebrak Pagi) yang digagas Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta.
Program ini melibatkan 1.420 personel gabungan yang ditempatkan di 90 titik prioritas untuk mengurai kemacetan, terutama di sekitar proyek konstruksi strategis.
"setuju dengan program Gebrak Pagi,"
Gebrak Pagi dilaksanakan setiap Senin, Selasa, dan Kamis pukul 06.30–08.00 WIB. Program tersebut disusun berdasarkan data pemantauan volume kendaraan selama Juli–September 2026 dan akan dievaluasi secara berkala untuk meningkatkan efektivitas penanganan kemacetan.
"Saya sangat setuju dengan program Gebrak Pagi ini. Bahkan, penguatan dan penambahan personel di lapangan pada jam-jam padat seperti ini sudah saya suarakan sejak tahun lalu," ujar Al Fatih, Rabu (14/10).
Menurutnya, program tersebut perlu diperluas, baik dari segi jumlah personel maupun titik penempatan. Pengawasan harus diprioritaskan di sekitar proyek galian, kawasan dengan aktivitas konstruksi tinggi, persimpangan rawan macet, serta titik penyempitan jalan (bottleneck) yang kerap menghambat arus kendaraan.
Al Fatih menegaskan, petugas Dishub tidak cukup hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga harus memastikan arus kendaraan berjalan lancar dan tertib. Petugas perlu bertindak tegas terhadap pengendara yang memotong antrean, menerobos, atau menyerobot hak pengguna jalan lain yang telah tertib mengantre.
"Budaya antre di jalan harus ditegakkan. Jangan sampai masyarakat yang sudah disiplin dan mengikuti aturan justru dirugikan oleh pengguna jalan yang seenaknya memotong antrean. Petugas harus melindungi hak pengguna jalan yang sudah tertib," tegasnya.
Ia menilai, Gebrak Pagi merupakan langkah konkret untuk mengurai kemacetan pada jam sibuk. Namun, keberhasilannya bergantung pada konsistensi pelaksanaan, kedisiplinan petugas, dan evaluasi berkala. Personel yang bertugas harus bekerja optimal, tanggap terhadap kondisi di lapangan, serta sigap menangani berbagai gangguan lalu lintas.
Lebih lanjut, Al Fatih mendorong Dishub mengevaluasi jadwal pelaksanaan berdasarkan data volume kendaraan. Jika terbukti efektif, program tersebut dapat diperluas ke lebih banyak titik prioritas dan disesuaikan dengan waktu puncak kepadatan. Koordinasi dengan pelaksana proyek konstruksi juga perlu diperkuat agar pekerjaan galian dan pembangunan infrastruktur tidak semakin menghambat kelancaran lalu lintas.
Al Fatih berharap, Gebrak Pagi Dishub dilaksanakan secara konsisten, diperluas sesuai kebutuhan, dan diawasi secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata terhadap penanganan kemacetan di ibu kota.
"Yang terpenting bukan sekadar berapa banyak personel yang diturunkan, melainkan seberapa efektif mereka bekerja di lapangan. Kehadiran petugas harus benar-benar berdampak pada kelancaran arus, kedisiplinan pengguna jalan, dan pengurangan waktu tempuh masyarakat," tandasnya.