Kamis, 08 Oktober 2026 Reporter: Nurito Editor: Toni Riyanto 130
(Foto: Nurito)
Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur mengadakan pelatihan pembuatan aneka produk roti atau kue. Pelatihan bidang bakery untu kali pertama ini diselenggarakan ini diikuti sebanyak sebanyak 20 penyandang disabilitas.
"Membuka atau mengembangkan usaha sendiri"
Kepala PPKD Jakarta Timur, Teguh Hendarwan mengatakan, selama 30 hari kerja, para peserta dilatih membuat berbagai jenis roti, mulai dari roti pisang, blueberry, cream cheese, roti kopi hingga roti sosis.
"Saya sangat senang dan bangga dengan semangat para penyandang disabilitas dalam mengikuti pelatihan ini," ujarnya, Kamis (8/10).
Teguh menjelaskan, peserta pelatihan juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian dan membuka peluang kewirausahaan.
"Kami ingin bekal keterampilan yang diperoleh para mampu diaplikasikan untuk membuka atau mengembangkan usaha sendiri," terangnya.
Ia menuturkan, pelatihan yang dimulai pada awal Oktober tersebut dijadwalkan memasuki tahapan uji kompetensi selama dua hari pada pekan depan.
"Peserta yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan PPKD Jakarta Timur," ucapnya.
Menurutnya, bekal keterampilan tambahan kecakapan berbahasa Inggris juga diberikan kepada peserta pelatihan. Sebab, kemampuan berbahasa Inggris ini diharapkan juga dapat mendukung kegiatan usaha mereka nantinya. Apalagi, Jakarta sedang menyongsong menjadi kota global.
"PPKD Jakarta Timur merupakan satu-satunya fasilitas di DKI Jakarta yang memiliki sarana Disabilitas Learning Center. Gedung ini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung pembelajaran bagi penyandang disabilitas," bebernya.
Instruktur pelatihan, Dini Ismiyati memaparkan, metode pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta. Salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran berbasis visual agar materi lebih mudah dipahami.
"Kalau metode pembelajaran seperti resep, biasanya orang umum standarnya pakai PDF. Namun, untuk difabel menggunakan visual karena kalau mereka diberikan tulisan saja biasanya akan lebih sulit memahami," ungkapnya.
Sementara itu, orang tua peserta, Zanti (45) mengaku bangga melihat perkembangan anaknya, Adrian Hakim Indra Kusuma (22) yang merupakan penyandang tunagrahita autistik.
Zanti menyampaikan, semula pesimistis anaknya yang merupakan atlet pararenang mampu mengikuti pelatihan dan membuat aneka jenis roti. Namun, keraguan tersebut sirna setelah melihat langsung kemampuan Adrian.
"Setelah anak saya ikut pelatihan bisa bikin roti, saya bersyukur karena anak saya diberi kesempatan untuk lebih mandiri dan percaya diri. Kami orang tua saja tidak percaya anak saya mampu bikin roti, ternyata bisa," tandasnya.