Senin, 21 September 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 104
(Foto: Istimewa)
Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan kembali menjadi ruang perayaan, perjumpaan, sekaligus penguatan budaya Betawi melalui Gebyar Seni Budaya Setu Babakan, yang diselenggarakan pada Sabtu, 19 September 2026.
Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Milad ke-26 Perkampungan Budaya Betawi tersebut mengusung tema ‘26 Tahun Perkampungan Budaya Betawi, Merawat Budaya Memperkuat Jati Diri’.
"kota yang maju sekaligus memiliki akar budaya yang kuat,"
Gebyar Seni Budaya Setu Babakan menghadirkan rangkaian pertunjukan yang merepresentasikan kekayaan seni budaya Betawi, mulai dari pagelaran tari, musik Betawi, Gambus, Lenong, hingga komedi Betawi.
Kegiatan ini juga dikemas secara kreatif dan kekinian melalui Festival Cahaya bertajuk ‘Kala Budaya’. Festival tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi dalam menghadirkan pengalaman budaya yang lebih atraktif, terutama bagi generasi muda dan masyarakat urban.
Panggung Gebyar Seni Budaya Setu Babakan juga akan dimeriahkan oleh sejumlah bintang tamu dan seniman yang telah dikenal luas oleh masyarakat, di antaranya Maudy Koesnaedi, Suti Karno, Zee Zee Shahab, Hj. Tonah, Burhanudin, Anwar BAB, Herry Ismet, Aji Bodong, dan Sonny Wak Waw.
Kehadiran para seniman dan publik figur tersebut memperluas jangkauan apresiasi terhadap budaya Betawi sekaligus mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang kebudayaan.
Selain pertunjukan seni, masyarakat juga menikmati bazar kuliner dan suvenir, yang menghadirkan ragam produk kuliner serta cendera mata bernuansa Betawi. Kehadiran bazar ini sekaligus membuka ruang bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk mendapatkan manfaat dari penyelenggaraan kegiatan kebudayaan.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary mengatakan, keberadaan Perkampungan Budaya Betawi memiliki arti penting dalam ekosistem kebudayaan Jakarta.
Menurutnya, keberadaan ruang-ruang kebudayaan menjadi penting di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global, untuk memastikan identitas dan akar budaya masyarakat tetap tumbuh dan berkembang.
Ia menyampaikan, perayaan tahun ini menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang PBB dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kebudayaan Betawi di tengah dinamika perkembangan Jakarta.
Selama 26 tahun, Perkampungan Budaya Betawi tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi tradisi, pengetahuan, kreativitas, kuliner, serta berbagai ekspresi budaya Betawi yang terus berkembang dari generasi ke generasi.
“Perkampungan Budaya Betawi adalah bagian penting dari wajah kebudayaan Jakarta. Selama 26 tahun, kawasan ini telah menjadi salah satu ruang strategis untuk merawat, mengembangkan, dan memperkenalkan kebudayaan Betawi kepada masyarakat luas,” ujarnya, Senin (21/9).
Ia menjelaskan, pelestarian budaya perlu dilakukan secara dinamis dengan melibatkan generasi muda dan memanfaatkan kreativitas serta inovasi agar budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman. Miftah berharap Milad ke-26 ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang berhenti di masa lalu.
“Kebudayaan harus terus bergerak, beradaptasi, dan hadir di tengah masyarakat. Dengan merawat budaya, kita menjaga identitas; dengan memperkuat identitas, kita memperkuat karakter Jakarta sebagai kota yang maju sekaligus memiliki akar budaya yang kuat,” katanya.
Miftah mengatakan, merawat budaya bukan berarti hanya menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga memastikan budaya terus hidup, dipelajari, dikembangkan, dan dicintai oleh generasi berikutnya.
”Karena ketika kita merawat budaya, sesungguhnya kita sedang memperkuat jati diri masyarakat Jakarta,” ucapnya.
Kepala Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi, Debby Novita Andriani menegaskan, usia 26 tahun merupakan perjalanan yang penuh dengan proses, tantangan, sekaligus pembelajaran dalam menjaga keberadaan PBB sebagai kawasan budaya di Jakarta.
“Milad ke-26 ini bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Ini adalah momentum untuk mengingat kembali bahwa budaya harus terus kita hidupkan. Budaya tidak cukup hanya disimpan atau dipamerkan, tetapi harus hadir dalam kehidupan masyarakat, dinikmati, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Menurutnya, Gebyar Seni Budaya Setu Babakan menjadi salah satu bentuk komitmen UPK PBB untuk menghadirkan ruang apresiasi yang mempertemukan pelaku seni, komunitas, generasi muda, masyarakat, dan wisatawan dalam suasana yang inklusif.
Ia berharap Perkampungan Budaya Betawi semakin menjadi rumah bersama bagi kebudayaan Betawi.
“Bukan hanya untuk masyarakat Betawi, tetapi untuk seluruh masyarakat Jakarta dan Indonesia. Semoga setiap orang yang datang ke Setu Babakan tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga membawa pulang rasa bangga terhadap budaya Indonesia,” tegasnya.