Rabu, 05 Agustus 2026 Reporter: Dessy Suciati Editor: Erikyanri Maulana 170
(Foto: Reza Pratama Putra)
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meminta anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang baru agar merawat ekosistem kesenian yang inklusif di Jakarta. Pramono mengatakan, sebagai kota global yang berbudaya dan inklusif, Jakarta terbuka bagi semua kalangan masyarakat.
Hal ini ditunjukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dengan membuka ruang budaya dan keagamaan secara luas untuk seluruh masyarakat melalui berbagai kegiatan, seperti Christmas Carol, Imlek, Waisak, dan lainnya.
"ikut merawat ekosistem kesenian yang inklusif,"
"Maka dengan demikian saya merawat, berharap betul saudara-saudara ikut merawat ekosistem kesenian yang inklusif tadi," ujar Pramono, usai mengukuhkan anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2026-2029 di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (5/8).
Gubernur juga berpesan kepada DKJ agar menjadikan seni sebagai wajah Jakarta di mata dunia. Pemprov DKI, kata dia, berkomitmen untuk memberikan ruang ekspresi yang semakin luas bagi para seniman dan budayawan.
Selain itu, ia juga mendorong agar Pemprov DKI dan DKJ memperkuat sinergi dan kolaborasi untuk menciptakan Jakarta menjadi kota yang nyaman dan aman.
"Tanpa itu (kolaborasi), menurut saya apa pun yang kita lakukan pasti tidak akan memberikan dampak membuat kenyamanan, keamanan kota yang kita cintai ini," kata Pramono.
Pram, sapaan akrabnya, meyakini anggota DKJ yang baru saja dikukuhkan ini mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Menurutnya, pengukuhan ini bukan hanya sekadar pergantian kepengurusan, namun juga menjadi momentum untuk merawat kehidupan kesenian, kebudayaan, dan kreativitas di Jakarta.
Saat ini, Jakarta tercatat menempati ranking ke-71 dari 156 kota global dunia. Pramono pun berharap Jakarta bisa menduduki jajaran 50 besar kota global pada 2030 nanti, salah satunya melalui peran kesenian dan budaya.
Ia menekankan pentingnya membuka ruang kesenian dan budaya, agar ekspresi masyarakat dapat tersalurkan dengan baik. Salah satunya melalui kebijakan untuk membuka operasional sejumlah taman di Jakarta menjadi 24 jam.
"Maka saya menyampaikan berkali-kali di Balai Kota, hubungan birokrasi pemerintahan dengan seniman, dengan budayawan, dengan kelompok-kelompok ekonomi kreatif itu harus berjalan dengan baik," tandasnya.