Kamis, 04 Juni 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 129
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Sebanyak 40 peserta mengikuti sosialisasi dan uji keterbacaan materi kesehatan reproduksi berdasarkan siklus hidup di aula Gedung Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Selatan.
"Materi ini sangat penting"
Kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) RI tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi sesuai dengan tahapan siklus kehidupan.
Kepala Suku Dinas PPAPP Jakarta Selatan, Rizky Hamid mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut dan berharap materi yang disampaikan dapat diteruskan kepada masyarakat secara luas.
"Kami sangat senang dan mengucapkan terima kasih kepada Kemendukbangga yang telah menginisiasi kegiatan ini. Peserta juga terlihat antusias dan menyimak dengan baik materi yang disampaikan oleh para narasumber," ujarnya, Senin (4/6).
Rizky menjelaskan, peserta kegiatan terdiri atas Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) kelurahan, petugas Pelayanan Keluarga Terpadu (PKT) kecamatan, kader kesehatan kelurahan, Forum Anak, Forum Generasi Berencana (Genre), pengurus sekolah lansia, serta para peserta didik sekolah lansia.
Ia berpesan agar seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan baik sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat.
"Materi ini sangat penting karena berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Kami berharap peserta dapat memahami materi yang diberikan, kemudian menyampaikannya kepada keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat di lingkungan masing-masing," terangnya.
Sementara itu, Direktur Bina Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga RI, Riri Mutia Ichwan menjelaskan, kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial yang berkaitan dengan sistem, fungsi, serta proses reproduksi.
Pendekatan kesehatan reproduksi tidak hanya ditujukan kepada kelompok usia subur, tetapi harus dipahami secara komprehensif sepanjang siklus hidup, mulai dari anak usia dini, remaja, dewasa, hingga lanjut usia.
"Setiap tahapan kehidupan memiliki kebutuhan, risiko, dan permasalahan kesehatan reproduksi yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan kelompok usia masing-masing," ungkapnya.
Riri menuturkan, hingga saat ini masih terdapat sejumlah tantangan dalam pemahaman dan praktik kesehatan reproduksi di masyarakat, diantaranya rendahnya literasi kesehatan reproduksi, masih berkembangnya mitos dan stigma, pernikahan usia dini, kehamilan yang tidak direncanakan, serta terbatasnya akses terhadap informasi dan layanan yang berkualitas.
"Ada juga pendekatan edukasi yang belum terintegrasi berdasarkan siklus hidup dinilai membuat berbagai intervensi yang dilakukan belum berjalan optimal dan berkelanjutan," ucapnya.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, lanjut Riri, Kemendukbangga RI telah menyusun Buku Kesehatan Reproduksi Berdasarkan Siklus Hidup yang dapat menjadi rujukan bagi pengelola program maupun masyarakat.
"Buku ini disusun sebagai referensi untuk membantu masyarakat memahami kesehatan reproduksi sesuai dengan tahapan kehidupan masing-masing," imbuhnya.
Riri memaparkan, uji keterbacaan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana isi buku dapat dipahami oleh pengguna sehingga dapat dilakukan penyempurnaan sebelum digunakan secara lebih luas.
"Kami berharap sosialisasi dan uji keterbacaan buku kesehatan reproduksi berdasarkan siklus hidup ini dapat meningkatkan pemahaman serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan reproduksi pada setiap tahap kehidupan," tandasnya.