Senin, 04 Mei 2026 Reporter: Nurito Editor: Toni Riyanto 81
(Foto: Nurito)
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin bertindak sebagai inspektur upacara (Irup) peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 yang dilaksanakan di halaman Kantor Wali Kota Jakarta Timur setempat.
"Menumbuhkembangkan potensi manusia"
Dalam upacara tersebut, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur, Muhammad Fahmi bertindak sebagai perwira upacara. Sementara, komandan upacara dijabat oleh Jumadi, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur.
Membacakan sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Munjirin menyampaikan, peringatan Hardiknas merupakan momentum untuk melakukan refleksi serta meneguhkan kembali semangat pendidikan nasional.
"Pendidikan pada hakikatnya adalah proses yang dilaksanakan secara tulus dan penuh kasih sayang untuk memanusiakan manusia," ujarnya, Senin (4/5).
Munjirin menjelaskan, mengutip pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan sistem among, yakni asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan).
Menurutnya, sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945 dan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa serta membangun watak dan peradaban yang bermartabat.
"Pendidikan merupakan proses menumbuhkembangkan potensi manusia agar menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, serta bertanggung jawab," terangnya.
Ia menuturkan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam sebagai program prioritas untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Terdapat lima kebijakan strategis yang menjadi fokus pemerintah, yaitu pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan serta digitalisasi pembelajaran; peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru.
Kemudian, penciptaan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan nyaman; peningkatan kualitas pembelajaran melalui literasi, numerasi, serta tes kemampuan akademik; dan perluasan akses pendidikan yang inklusif serta terjangkau.
Berbagai kebijakan tersebut perlu didukung dengan penguatan karakter peserta didik, termasuk melalui penerapan kebiasaan positif dan upaya menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan dan kekerasan.
"Seluruh kebijakan tidak akan berjalan optimal tanpa didukung prinsip 3M, yaitu pola pikir yang maju, mental yang kuat, dan misi yang lurus. Tanpa itu, program hanya akan menjadi formalitas," tandasnya.