Selasa, 14 April 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 293
(Foto: Istimewa)
Pagi baru saja bergerak di Jalan Jembatan Tiga Raya, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Di antara deru kendaraan dan debu kota yang tak pernah benar-benar pergi, sosok pria berseragam oranye tampak menyapu sisi jalan untuk ikut memastikan Jakarta senantiasa bersih.
Ia adalah Muklisin (41), petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Penjaringan yang belakangan menjadi perbincangan. Bukan karena sensasi atau kontroversi, melainkan karena hal yang justru sering diabaikan banyak orang, konsistensi dan dedikasi tulus dalam bekerja.
"Kebanggaan besar bagi saya dan keluarga"
Namanya mulai dikenal publik setelah unggahan-unggahan sederhana di media sosial mendadak viral pada 8 April lalu. Dalam setiap unggahannya, Muklisin mendokumentasikan pekerjaannya secara runtut, mulai dari kondisi awal, proses pengerjaan hingga hasil akhir.
"Saya tidak menyangka bisa viral. Padahal, setiap hari memang rutin memposting bukti kerja dengan tambahan kata-kata yang bermakna,” ujarnya, Selasa (14/4).
Tidak ada produksi berlebihan. Tidak ada dramatisasi. Hanya kerja harian yang direkam apa adanya. Ironisnya, justru kesederhanaan itulah yang terasa langka.
Perhatian publik terhadapnya bahkan sampai ke Balai Kota. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengundang Muklisin untuk bertemu langsung dan memberikan apresiasi atas dedikasinya.
"Sangat senang dan terharu bisa mendapat perhatian serta bertemu langsung dengan Pak Pramono Anung. Bapak Gubernur berpesan agar saya tetap semangat dan bisa menjadi contoh. Itu kebanggaan besar bagi saya dan keluarga," ujarnya, Selasa (14/4).
Sebagai kepala keluarga dengan tiga anak, hari-hari Muklisin dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Ia menyisir jalanan, memastikan lingkungan tetap bersih. Rutinitas yang tampak sederhana itu menyimpan tantangan yang tidak selalu terlihat. Bukan hanya soal sampah, tetapi juga soal kebiasaan.
"Kesadaran warga masih kurang. Sudah sering diingatkan, tetapi masih ada yang membuang sampah sembarangan," ungkapnya.
Dalam era ketika teknologi berkembang cepat, bahkan kecerdasan buatan mulai menggantikan banyak peran manusia, Muklisin justru berpegang pada nilai yang nyaris klasik, kejujuran dan tanggung jawab.
"Pesan saya untuk teman-teman, kita harus serius dan amanah. Kita digaji dari uang rakyat, jadi harus jujur dan bertanggung jawab," ucapnya.
Di tengah kondisi tersebut, ia tetap bekerja tanpa banyak keluhan. Sore hari, ketika tenaga masih tersisa, ia beralih profesi menjadi pengemudi ojek daring. Ritme hidup yang mungkin membuat sebagian orang memilih menyerah, tapi tidak untuknya.
Lurah Penjaringan, Makhrus Nugroho Darojat turut memberikan apresiasi atas kinerja Muklisin. Ia mengenal Mukhlisin sebagai sosok yang menunjukkan dedikasi, keikhlasan, dan integritas tinggi dalam menjalankan tugas.
"Konsisten, jujur, dan semangat. Mukhlisin tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi simbol integritas dari sudut Penjaringan," terangnya.
Menurutnya, kisah Muklisin menjadi bukti bahwa di tengah berbagai persepsi masyarakat, masih banyak personel Pasukan Oranye yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.
"Kami berharap seluruh petugas PPSU Kelurahan Penjaringan dapat bekerja dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, tanpa mengakali pekerjaan atau laporan yang menjadi tugasnya," tandasnya.