Selasa, 20 Januari 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 231
(Foto: doc)
Kawasan Kota Tua Jakarta mencatat jumlah kunjungan yang tinggi sepanjang Januari hingga Desember 2025.
"Tren kunjungan menunjukkan adanya peningkatan,"
Berdasarkan data pengelola, total kunjungan mencapai 2.413.445 orang, dengan rincian pengunjung lokal sebanyak 2.346.426 orang dan wisatawan mancanegara sebesar 67.019 orang.
Kepala UPK Kota Tua, Denny Aputra mengatakan, angka tersebut termasuk tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Ia menilai, capaian ini menunjukkan Kota Tua tetap menjadi salah satu destinasi unggulan wisata sejarah dan budaya di DKI Jakarta.
“Tren kunjungan menunjukkan adanya peningkatan secara signifikan pada tahun 2025 dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya, Selasa (20/1).
Ia menyampaikan, tingginya jumlah pengunjung tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung yang terus diperkuat oleh pengelola kawasan.
Aktivasi kawasan melalui beragam kegiatan menjadi salah satu daya tarik utama yang mendorong masyarakat untuk datang kembali ke Kota Tua.
“Selain itu, kepastian layanan bagi pengunjung juga menjadi faktor penting dalam menciptakan rasa aman dan nyaman selama berwisata,” katanya.
Denny menjelaskan, Kota Tua Jakarta rutin menghadirkan berbagai aktivitas berbasis seni, budaya, sejarah, dan komunitas yang terbuka untuk publik dalam beberapa waktu terakhir.
Penataan kawasan yang lebih tertib, penguatan fungsi museum, ruang publik yang ramah pengunjung, serta peningkatan koordinasi layanan antarpengelola turut berkontribusi dalam menjaga kualitas pengalaman wisata.
“Upaya ini sejalan dengan pendekatan pengelolaan kawasan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada keberlanjutan dan kualitas layanan,” ucapnya.
Ke depan, pengelola berharap tren positif ini dapat terus terjaga melalui konsistensi aktivasi kawasan dan peningkatan layanan publik dalam rangka mewujudkan Jakarta sebagai Kota Global.
“Dengan dukungan berbagai pihak, Kota Tua diharapkan tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga ruang interaksi budaya yang hidup dan relevan bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara,” tandasnya.