Pukulan Meraih Mimpi

Oleh :

Anita Karyati

Rabu, 26 November 2025 | 97

Kala sinar matahari senja mulai menyapa cakrawala dan langit Jakarta sedikit memerah, sekelompok anak muda terlihat bersemangat mengolah raga dan bermandi keringat di bawah tiang-tiang beton kolong Tol Ir Wiyoto Wiyono, Jalan Warakas, Gang 24, RT 13/08, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Mereka bergerak dan memukul tiada henti mengikuti instruksi pelatih. Lelah seakan tak terasa. Rasa letih mengejawantah jadi energi, demi meraih mimpi. Menjadi petarung sejati dengan segenggam prestasi.

Itulah aktivitas rutin yang terlihat di sasana Ayuba Camp. Berlokasi di utara Jakarta yang tersohor dengan aksi kriminal, narkoba dan tawuran warga, sasana ini memberi ruang bagi anak muda menyalurkan bakat, berlatih tinju dan wushu.

Sasana ini seolah menjadi Kawah Candradimuka. Pukulan demi pukulan bukan sekadar adu fisik, melainkan ajang pembuktian diri. Perasaan ini yang dirasakan Lestari, wanita berusia 17 tahun yang telah berlatih di sasana sejak usia lima tahun.

Ketertarikan gadis yang akrab dipanggil Tari berlatih bela diri di sasana ini berawal dari mengikuti sang kakak berlatih bertarung. Pertarungan ini bukan sedang bersiap untuk tawuran, namun mereka berlatih bertarung dalam ring tinju yang sah dan terarah.

“Awalnya ikut-ikutan dan bermain, namun semakin besar ada keinginan untuk serius dan ikut jejak kakak. Atas dukungan keluarga, akhirnya saya menekuni olahraga bela diri tinju dan wushu ini,” akunya.

Hasil latihan yang tidak pernah henti tiga kali dalam sepekan, memberikan pengalaman yang berharga bagi dirinya. Mulai dari kejuaraan tingkat kota dengan hasil yang memuaskan, berlanjut di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas).

“Latihan yang keras membuat saya semakin semangat dan menguji adrenalin. Sebab, seorang perempuan tidak hanya pandai memasak, tetapi juga harus memiliki jiwa berani, terutama menjaga diri dan mental,” tegasnya.

Tari menilai untuk menjadi atlet sejati, tidak hanya bermodal kekuatan dan latihan, tetapi tekad, niat, etika dan tujuan jelas untuk masa depan. Semua modal itu akan membawa nasib hidup seseorang untuk meraih prestasi yang tinggi dan sukses.

“Cita-cita saya ingin menjadi atlet yang mendunia dan polisi wanita. Dengan latihan yang penuh gelora dan profesionalisme, saya yakin dapat terwujud. Tentu ini juga membuat bangga kedua orang tua,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan Rajib Ghifari Maulana. Pemuda yang berusia 16 tahun ini mengaku baru bergabung di sasana ini sejak Agustus 2025 lalu setelah mengikuti ajakan kawannya.

Diakui Rajib, latihan di antara tiang-tiang beton memberikan nuansa yang menantang dan berbeda dari lainnya.

“Olahraga tinju sangat menantang. Kita diajarkan cara kita menepis pukulan hingga melakukan perlawanan kembali. Saya sangat menikmati olahraga ini. Tidak hanya seru, tetapi melatih sikap kita untuk disiplin, keras dan fokus,” tuturnya.

Rajib juga merasa, latihan di Sasana Ayuba serasa rumah kedua. Tidak hanya mendengar suara dentuman pukulan, tetapi mendapatkan kehangatan dan kerinduan dari semua anggota dan pelatih. Olahraga ini juga membuatnya semakin menemukan jati diri dan menjauhi segala perilaku yang tidak pantas dilakukan.

“Saya tinggal di Warakas V dan memang banyak anak-anak yang seusia saya kerap berkelahi ataupun tawuran. Menurut saya daripada berkelahi di jalan, lebih baik uji skill di atas ring ini,” tuturnya.

Sasana Ayuba Camp, tidak hanya melatih para remaja, tetapi juga membina dan melatih anak usia lima hingga 10 tahun.

Ali Haydar Al Husayni Al Muntazhar yang saat ini berusia sembilan tahun mengaku suka bermain pertarungan dengan saudara laki-lakinya, Yudhistira Gautama Al Munthazar (14). Pada akhirnya kedua orang tuanya memasukan mereka ke pelatihan bela diri.

“Karena kami berdua suka bermain pertarungan jadi didorong mendalami olahraga bela diri. Awalnya taekwondo. Karena kurang cocok, akhirnya kita berdua diminta berlatih boxing. Tidak sulit, ini menyenangkan,” katanya.

Ali mengaku banyak teknik basic pukulan hingga tendangan yang diberikan selama ia berlatih. Meski tubuhnya kecil, Ali mempunyai tenaga yang kuat dan semangat yang tinggi untuk bertarung. Ia pun berharap, jika sudah besar nanti ingin menjadi petinju profesional yang mendunia.



Petarung Tangguh

Sasana Ayuba Camp berdiri pada 2005 di bawah kolong tol yang berada di wilayah Papanggo dengan luas sekitar 200 meter persegi. Sasana ini sendiri didirikan Salim Ayuba, mantan atiet tinju dan wushu nasional yang pernah mengharumkan nama Indonesia pada era 90-an.

Berkiprah di dunia tinju sejak 1983, Salim mulai menjadi petinju profesional pada 1993. Ia juga mengukir prestasi di cabang wushu sejak 1995.

“Kejuaraan PON pertama saya pada 1996, berhasil meraih medali emas di cabang wushu. Akhirnya naik ke peringkat empat tingkat Asia. Kemudian, pada PON 2000 coba di cabang tinju dan berhasil meraih medali perak, lalu kembali ikut pada 2004 yang akhirnya menggenggam medali emas,” terangnya.

Tak berhenti sebagai atlet, Salim juga terpilih menjadi pelatih wushu di SEA Games 2007, Kejuaraan Dunia 2009 dan ASEAN Games 2010. Salim kembali menjadi pelatih wushu pada Kejuaraan Dunia 2018 di Brazil, Timnas Asian Wushu Junior 2024 dan pelatih wushu DKI pada PON 2021 dan 2024.

Pada akhirnya, di tempat ini Salim membuka pintu sasana-nya untuk anak-anak tidak mampu. Langkah tersebut adalah cara mengubah hidup pemuda dari jalanan yang penuh keterbatasan menuju panggung pembuka harapan.

Bagi Salim, membagikan ilmu kepada generasi muda berarti meneruskan napas perjuangan yang dulu menempel di atas ring. Cara ini sekaligus untuk mewariskan semangat agar melahirkan generasi petarung tangguh.

“Sebagai mantan atlet, mau tidak mau pasti menjadi pelatih dan meluangkan ilmu yang kita miliki untuk para generasi muda. Saya percaya, cara ini bisa merubah nasib anak-anak dari keluarga tidak mampu,” harapnya.

Salim menjelaskan, setiap memulai latihan para murid diberikan latihan gerakan dasar dan teknik tiap cabang olahraga, baik itu tinju, wushu dan kickboxing. Latihan tinju dimulai dari jab straight atau pukulan lurus dan jenis pukulan lainnya seperti hook dan uppercut.

Sementara kickboxing mengajarkan teknik pukulan yang dipadu tendangan khas. Sedangkan wushu menekankan teknik bantingan dan gerakan cekatan. Bukan soal pukulan atau tendangan, semua gerakan bela diri ini tentang bagaimana cara menghindar, memutar dan mengatur irama pertarungan.

“Awalnya hanya puluhan, kini setidaknya sudah ada 100 murid dan atlet yang berlatih di Sasana Ayuba. Tidak hanya dari Jakarta, tetapi mereka juga ada dari luar Jakarta,” tambahnya.

Tujuan awal berdirinya sasana ini, kata Salim, untuk menyalurkan hobi petarung generasi muda secara positif, mencetak atlet-atlet berprestasi sekaligus menghindari mereka dari tindak kriminalitas di kalangan remaja seperti tawuran, bullying maupun lainnya.

“Saya selalu arahkan mereka, berlatih bukan untuk berkelahi, tetapi untuk mencari sportivitas dan prestasi di atas panggung untuk masa depan dan kuat menjalani pertarungan hidup sehari-hari. Bertarung di jalanan tidak menguntungkan siapa-siapa, justru merugikan diri kita sendiri,” tandasnya.