Pesanan Ondel-ondel Meningkat Jelang HUT Jakarta

Reporter : Yance Wiratman | Editor : Widodo Bogiarto | Jumat, 20 Juni 2014 23:39 WIB | Dibaca 6114 kali
(Foto : Yance Wiratman / Beritajakarta.id)

Kebudayaan Betawi seperti terus tergerus dan kian terlupakan. Saat ini, bisa dikatakan tidak banyak orang yang melestarikan kebudayaan warisan nenek moyang yang tak ternilai harganya itu. Meski begitu, masih ada sejumlah orang yang terus bertahan mempertahankan kebudayaan Betawi dengan caranya masing-masing.

" Tahun ini kita hanya menyewakan ondel-ondel saja. Penyewaan saja sudah membuat kita kewalahan melayani pesanan"

Salah satunya adalah Sri Nurhidayati, yang hingga kini masih menekuni usaha peninggalan almarhum suaminya, Hasyim Maulana, membuat ondel-ondel. Dan setiap menjelang perayaan HUT Kota Jakarta, tempat usahanya selalu kebanjiran pesanan ondel-ondel. Bahkan kesibukan melayani penyewaan ondel-ondel dilakukan hingga H-1 HUT Jakarta.

Sri mengaku, khusus tahun ini tidak melayani pesanan pembuatan ondel-ondel karena keterbatasan pekerjanya. "Tahun ini kita hanya menyewakan ondel-ondel saja. Penyewaan saja sudah membuat kita kewalahan melayani pesanan," ujar Sri di kediamannya di Jl Sepat I, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (20/6).

Menurut Sri, tahun lalu saja ada 40 ondel-ondel yang disewa dan dibeli sejumlah instansi swasta dan pemerintah. Untuk harga sewa, dipatok mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 350 ribu per hari. Sementara untuk pembelian, ondel-ondel dihargai Rp 3,5 – 10 juta untuk setiap pasangnya.

“Setiap perayaan HUT Jakarta selalu kebanjiran pemesanan. Tahun lalu saja penyewaan dan pembelian hingga 40 pasang ondel-ondel berikut ornamen kembang kelapanya,” ujar Sri.

Sri mengungkapkan, tidak terlalu sulit untuk melestarikan ondel-ondel, asalkan ada kemauan. Untuk bahan baku, sambungnya, diperlukan kayu gelondongan, bambu, ijuk, dan kawat masih mudah ditemui. "Jika ada saingan itu juga bagus, untuk memacu kita agar lebih baik lagi. Masing-masing perajin juga punya ciri khas sendiri, kalau punya kita cirinya ondel-ondel abang none. Jadi tergantung pelanggan mau pilih yang mana," tandasnya.

Di sisi lain, kerajinan yang bagi sebagian orang sudah di sepelekan ini ternyata sudah terkenal sampai ke wilayah di sekitar Jakarta. Bahkan hasil kerajinan ondel-ondel milik Sri ini sudah sampai keluar negeri. “Kita sudah banyak mengirim ke Singapura, Australia hingga Jepang. Kantor-kantor perwakilan negara asing yang sedang mengadakan kegiatan pariwisata di Indonesia juga sering memesan ondel-ondel milik kami,” paparnya.

Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang ada di beberapa daerah lain.