Museum Arsip Nasional Kurang Diminati

Senin, 05 Mei 2014 Reporter: Hendi Kusuma Editor: Agustian Anas 145891

Museum Arsip Nasional Kurang Diminati Wisatawan Lokal

(Foto: Hendi Kusuma)

Minat masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta untuk mengunjungi Museum Gedung Arsip Nasional sangat rendah. Hal itu terlihat dari jumlah wisatawan lokal yang mengunjungi museum tersebut.

Kalau wisatawan domestik paling sekitar lima orang per hari. Sedangkan wisatawan asing berkisar 20 orang. Kebanyakan mereka dari Belanda, Jepang, dan Taiwan

Berdasarkan data yang diperoleh, setiap harinya hanya ada lima wisatawan demestik yang berkunjung ke museum yang terletak di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat tersebut. Sedangkan wisatawan mancanegara bisa mencapai 20 orang.

"Kalau wisatawan domestik paling sekitar lima orang per hari. Sedangkan wisatawan asing berkisar 20 orang. Kebanyakan mereka dari Belanda, Jepang, dan Taiwan," ujar Sirojudin, pemandu wisata sekaligus petugas keamanan museum, Minggu (4/5).

Padahal, kata Sirojudin, Museum Arsip Nasional cukup memliki daya tarik dan menyimpan 200 benda bersejarah dan surat arsip peninggalan dari kerajaan nusantara dan pemerintah Hindia Belanda. "Ada 200 barang peninggalan sejarah dan surat arsip yang dikoleksi di museum ini," kata Sirojudin.

Barang-barang peninggalan sejarah itu berupa kursi dan lemari peninggalan kesultanan di nusantara, senjata dan perlengkapan perang dari berbagai kesultanan, senjata pemerintah Hindia Belanda seperti meriam dan senjata api. Selain itu juga ada gong dari kerajaan Jawa, terakhir yang paling banyak adalah arsip surat-surat kerjasama antara kesultanan dengan kesultanan lain, dan ada juga kerjasama antara kesultanan dan pemerintah Hindia Belanda.

"Kebanyakan adalah arsip surat-surat kerjasama antara kesultanan dengan kesultanan semua ditulis dalam bahasa Arab, untuk terjemahaan ada di kantor pusat arsip Jl Ampera Cilandak. Sementara yang lain-lain adalah barang peninggalan Hindia Belanda," ungkapnya.

Sekadar diketahui, gedung Museum Arsip Nasional didirikan pada tahun 1750 sebagai rumah tinggal Gubernur Jenderal Reyner de Klerk. Gedung tersebut dibangun dengan di kelilingi parit yang dalam guna mempertahankan kota Batavia terhadap serangan dari Banten atau Mataram. Namun pada abad ke-19, rumah tersebut beralih fungsi menjadi panti asuhan untuk anak yatim piatu, setelah itu bangunan tersebut mengalami beberapa pemugaran hingga akhirnya tahun 1992 bangunan tersebut menjadi tempat penyimpan arsip nasional. Tahun 1995, para pengusaha Belanda mengumpulkan dana untuk pemugaran pembangunan rumah De Klerk dan diberikan kepada pemerintah RI sebagai hadiah 50 tahun kemerdekaan Indonesia.

BERITA TERKAIT
smk kunjungi museum istimewa

Siswa di Jaksel Wajib Kunjungi Museum

Minggu, 27 April 2014 7006

Mulai dari wisata alam, wisata belanja, wisata ziarah, dan wisata kuliner.

Jakbar Promosi Wisata di Majapahit Travel Fair

Jumat, 25 April 2014 12717

Pemprov DKI Lucurkan Dua Unit Kontiner Perpustakaan Keliling

DKI Luncurkan 2 Truk Kontainer Perpustakaan Keliling

Jumat, 02 Mei 2014 7462

asjid tertua di Jakarta, Masjid Jami' Al 'Atiq yang terletak di Jl. Masjid I No. 3, Kampung Melayu B

Masjid Al Atiq Sisa Kejayaan Sultan Ageng Tirtayasa

Sabtu, 12 April 2014 147096

pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Kota Tua tampaknya tidak membuat jera para PKL untuk kembali ber

PKL Kembali Marak di Kawasan Kota Tua

Selasa, 08 April 2014 6450

BERITA POPULER
IMG 20260319 191414

PPSU Jelambar Bersih-bersih TPS Depo Kembar

Kamis, 19 Maret 2026 2788

IMG 20260319 WA0000

Kebakaran di SMAN 84 Hanguskan Ruang Perpustakaan

Kamis, 19 Maret 2026 2807

Taman Lapangan Banteng doc

Pemprov DKI Bakal Gelar Halalbihalal di Lapangan Banteng

Sabtu, 21 Maret 2026 1388

Pemerintah Atur WFA ASN saat Perayaan Lebaran 2026

Pemprov DKI Terapkan Kebijakan WFA Proporsional Usai Libur Lebaran

Senin, 23 Maret 2026 807

Car free night sarinah otoy

Pemprov DKI Gelar Car Free Night saat Malam Takbiran

Kamis, 19 Maret 2026 1151

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks