Ribuan Warga Padati Ritual Festival Ganceng

Reporter : Budhi Firmansyah Surapati | Editor : Widodo Bogiarto | Jumat, 02 Oktober 2015 18:07 WIB | Dibaca 3728 kali
(Foto : Budhi Firmansyah Surapati / Beritajakarta.id)

Pemkot Administrasi Jakarta Timur kembali mengadakan Festival Ganceng di Kelurahan Pondok Ranggon, Cipayung. Festival yang digelar setiap tahun ini tampak dipadati ribuan warga yang menonton arak-arakan ritual penanaman dua kepala kambing dan beragam kesenian Betawi dan Sunda.

"Di setiap lokasi, kepala kambing ditanam satu. Setelah itu rombongan kembali ke halaman kelurahan "

Festival Ganceng yang juga dikenal dengan sebutan hajat bumi ini merupakan ritual warga Kelurahan Pondok Ranggon sebagai ungkapan wujud syukur. Sebelum festival berlangsung, acara dimulai dengan kegiatan tahlilan dan doa bersama di Makam Keramat Ganceng.

Lurah Pondok Ranggon, Mahpuz mengatakan, acara dilanjutkan sejak siang tadi sekitar pukul 13.00. Dua kepala kambing diarak dari Makam Keramat Ganceng menuju tapal perbatasan di RW 06, Desa Harjamukti, Cimanggis, Depok, Jawa Barat dan Kramat Ampel, di RT 08/05, Pondok Ranggon, Cipayung.

"Di setiap lokasi, kepala kambing ditanam satu. Setelah itu rombongan kembali ke halaman kelurahan," kata Mahpuz.

Di halaman kelurahan, beragam kesesian akan ditampilkan, seperti wayang golek, musik tanjidor dan kesenian topeng Betawi. Secara bergiliran seni budaya yang bercampur antara Sunda dan Betawi dipentaskan sebagai pamungkas ritual syukuran warga Pondok Ranggon.

Wali Kota Jakarta Timur, Bambang Musyawardana mengatakan, Festvial Ganceng merupakan budaya tradisional yang sangat unik dan memiliki nilai budaya tinggi. Oleh karena itu, pihaknya akan melestarikan budaya langka ini agar tetap eksis.

Bahkan Bambang berencana mengajukan anggaran untuk bantuan pelaksanaan festival agar lebih besar lagi gaungnya, melalui APBD DKI. Jika perlu, setiap even akan dikolaborasi dengan kegiatan di tingkat kota.

"Di wilayah ibukota, ternyata masih ada kegiatan unik dan tradisional. Tentu ini jadi salah satu budaya langka warisan leluhur yang harus kita lestarikan. Budaya seperti ini hanya satu-satunya di Jakarta," ujar Bambang.