Jokowi Mengaku Pecinta Heritage

Senin, 03 Maret 2014 Reporter: Erna Martiyanti Editor: Agustian Anas 4231

kota_tua.JPG

(Foto: doc)

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku sangat konsen dalam revitalsiasi Kota Tua, Jakarta Barat. Apalagi, orang nomor satu di Jakarta ini mengaku sebagai pecinta heritage (cagar budaya). Bahkan ketika menjabat sebagai Walikota Solo, dirinya mampu membuat Solo sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang masuk dalam Organisation World Heritage City.

"Kawasan Kota Tua ini terbesar di Asia, kenapa tidak kita jadikan seperti Solo," ujar Jokowi, di Balaikota, Senin (3/3).

Jokowi mengatakan, pihanya telah menandatangani rencana induk Kota Tua. Sehingga nantinya tidak hanya Kota Tua yang dikembangkan, tetapi juga terkait dengan jejak pahlawan (patriot trail) yang ada di Jakarta. "Tadi menyambungkan antara induk Kota Tua, baru saja ditandatangani biar sambung dengan rencana dari konsorsium dan Yayasan Pusaka Nusantara Raya," katanya.

Untuk cagar budaya (heritage trail) mencakup kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa-Ancol. Sementara untuk patriot trail mencakup kawasan Monas dan Tugu Proklamasi. "Jadi nantinya kawasan heritage trail dengan patriot trail bisa tersambungkan. Di semua negara juga ada, agar kita tidak lupa dengan sejarah. Ini yang kita sering mengabaikan, jati diri kita hilang," ucapnya.

Diakui Jokowi, nantinya tidak hanya sejarah dan kepahlawanan saja yang dikembangkan. Tetapi juga terkait dengan penyebaran agama di Jakarta. "Wajah sejarah kita buka. Kalau tidak nantinya anak cucu kita tidak mengerti. Ini sejak besar bangsa, sejarah Jakarta akan kita ingatkan lagi," ungkapnya.

Anggarannya sendiri tidak sepenuhnya menggunakan dana APBD. Menginggat telah dientuk konsorsium dalam pembangunannya. Agar pembiayaan ringgan, revitalisasi akan dilakukan secara bertahap. "Misalnya butuh biaya Rp 20 triliun dibagi menjadi enam tahun, jadi setiap tahunnya hanya butuh dana lebih dari Rp 3 triliun," tandasnya.

Menurut Jokowi, revitalisasi Kota Tua ini agar kebudayaan Jakarta tidak terkikis oleh budaya asing. Terlebih saat ini telah menjamur pusat perbelanjaan. "Sehingga ada kesemimbangan antara budaya asing dan budaya kita. Nanti kita tahu sebetulnya milik kita yang betul itu adalah pasar tradisional dan bukan mal," tandasnya.
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
Syafrin Tinjau Lokbin dan Pasar Jaya Pasar Minggu

Syafrin Tinjau Lokbin Pasar Minggu

Senin, 27 Juli 2026 1376

Pelantikan dpp forkabi rezap2

Pramono Dorong Forkabi Kompak Bangun Jakarta

Jumat, 24 Juli 2026 1797

Pilah sampah gerakan kolektif ist

Festival Edukasi Pilah Sampah Jadi Gerakan Kolektif Bangun Kesadaran Lingkungan

Selasa, 28 Juli 2026 584

Peresmian Open Top Tour Of Batavia otoy

Bus Open Top Tour Jakarta Batavia Resmi Beroperasi

Kamis, 23 Juli 2026 1426

Pramono Intruksikan Pengangkutan Timbunan Sampah di Penjaringan dan Pasar Minggu

Pemprov Beri Teguran Keras Pembuang Sampah di RTH Penjaringan

Minggu, 26 Juli 2026 708

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks