Jumat, 23 Oktober 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 184
(Foto: Bilal Nugraha Ginanjar)
Sampah anorganik tidak hanya dapat memberikan nilai ekonomis, tetapi juga menjadi solusi untuk membantu meringankan biaya pendidikan anak. Inovasi tersebut diterapkan melalui program tabungan Bank Sampah Kenanga di RW 04, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.
"Memiliki 823 nasabah"
Program ini mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan pendidikan anak usia dini (PAUD). Melalui tabungan sampah, orang tua murid dapat mengumpulkan sampah anorganik bernilai jual untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan anak sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Bendahara Bank Sampah Kenanga, Nur Lela mengatakan, PAUD Kenanga mulai beroperasi pada 2021, setahun setelah bank sampah tersebut dirintis.
Saat ini, PAUD Kenanga memiliki 20 peserta didik yang didampingi empat tenaga pendidik. Kegiatan pembelajaran dibagi menjadi dua sesi, yakni pukul 08.00-09.30 WIB dan 10.00-11.30 WIB.
"Sesi pertama juga mengakomodir anak berkebutuhan khusus," ujarnya, Jumat (23/10).
Nur Lela menjelaskan, integrasi tabungan sampah dengan kegiatan PAUD tidak hanya bertujuan membantu meringankan beban ekonomi orang tua, tetapi juga membangun kebiasaan memilah sampah di lingkungan keluarga.
Para orang tua dibiasakan membawa sampah anorganik bernilai ekonomi, seperti botol plastik dan kardus, saat mengantar anak ke sekolah.
"Kami ingin anak-anak terbiasa memilah sampah sejak dini. Hasil tabungannya juga dapat dimanfaatkan untuk membantu membayar biaya sekolah," ungkapnya.
Menurutnya, sampah yang disetorkan memiliki nilai ekonomi berbeda berdasarkan jenis layanan. Botol plastik bersih yang disetorkan langsung ke sekolah dihargai Rp4.500 per kilogram. Sementara itu, melalui layanan jemput bola, harga yang diberikan berkisar Rp3.000 hingga Rp3.500 per kilogram.
"Saat ini, Bank Sampah Kenanga sudah memiliki 823 nasabah yang berpartisipasi dalam pengumpulan sampah bernilai ekonomi," ungkapnya.
Ia menambahkan, sampah yang memiliki nilai jual disalurkan kepada pengepul mitra. Adapun sebagian sampah lainnya dimanfaatkan untuk menghasilkan produk kreatif, seperti pot bunga, vas, dan berbagai kerajinan berbahan plastik.
"Pengelolaan sampah tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna," bebernya.
Sementara itu, orang tua murid sekaligus nasabah Bank Sampah Kenanga, Ratnasari (35) mengaku sudah mengikuti program tersebut selama dua tahun.
Ia rutin mengumpulkan sampah dari rumah untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak.
"Setiap pekan, saya bisa mengumpulkan rata-rata lima kilogram botol plastik bersih dan tiga kilogram kardus bekas," ucapnya.
Ratnasari menuturkan, kegiatan memilah dan mengumpulkan sampah kini menjadi kebiasaan yang memberikan manfaat ekonomi bagi keluarganya.
"Selain membantu kebutuhan pendidikan anak, kebiasaan tersebut juga meningkatkan kepedulian keluarga terhadap kebersihan lingkungan," tandasnya.