Rabu, 07 Oktober 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 268
(Foto: Istimewa)
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menghadiri Festival Indonesia 2026 di Yeouido Hangang Park, Seoul, Korea Selatan, Minggu (4/10) lalu.
Festival yang mempertemukan masyarakat Indonesia dan Korea Selatan ini, menjadi ruang memperkuat diplomasi budaya sekaligus membuka peluang kolaborasi Jakarta dan Seoul di bidang kebudayaan, ekonomi kreatif, dan perfilman.
Jakarta dan Seoul memiliki banyak ruang untuk tumbuh bersama
“Festival Indonesia bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah ruang perjumpaan. Melalui seni, kuliner, kreativitas, dan budaya, masyarakat Indonesia dan Korea Selatan bisa semakin saling mengenal, berbagi inspirasi dan membangun persahabatan yang lebih kuat,” ujarnya.
Kehadiran Rano merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta atas undangan Pemerintah Kota Seoul, untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama, termasuk pertukaran pengalaman dalam mengembangkan kota melalui kebudayaan, kreativitas, dan inovasi.
Rano hadir bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Cecep Herawan, beserta istri serta ribuan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah yang tinggal dan bekerja di Korea Selatan.
Dalam kesempatan tersebut, Jakarta turut diperkenalkan melalui pertunjukan kesenian serta paparan khusus yang disampaikan langsung Rano.
"Hubungan antarmasyarakat atau people-to-people merupakan bagian penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Korea Selatan," ucap Rano.
Pada saat yang sama, Indonesia dapat menunjukkan wajah sebagai bangsa yang menjaga warisan budaya, tetapi tetap terbuka terhadap kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.
“Jakarta dan Seoul memiliki banyak ruang untuk tumbuh bersama. Hubungan keduanya harus kita isi dengan kerja sama yang konkret. Mulai dari kebudayaan, industri kreatif, perfilman, pengembangan talenta muda, sampai pertukaran pengalaman dalam membangun kota yang mampu berbicara di tingkat global,” bebernya.
Dikatakan Rano, salah satu yang menjadi perhatiannya adalah upaya mengembangkan kebudayaan secara konsisten hingga mampu menjangkau masyarakat dunia.
Disebutkan Rano, film, musik, drama, kuliner, fesyen, dan berbagai produk budaya Korea menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai warisan yang dijaga, tetapi juga dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan instrumen diplomasi.
“Kita melihat bagaimana Korea Selatan mampu membawa kebudayaannya menembus batas-batas negara. Yang menarik untuk kita pelajari bukan sekadar hasil akhirnya, tetapi strategi di belakangnya, bagaimana budaya diberi ruang, kreator diperkuat, industri dibangun, dan semuanya kemudian diperkenalkan kepada dunia,” paparnya.
Sebagai kota yang sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis, tradisi, dan kebudayaan, tegas Rano, Jakarta memiliki kekayaan yang dapat menjadi bagian dari identitasnya sebagai kota global.
"Pembangunan Jakarta sebagai kota global tidak harus berarti meninggalkan akar budayanya. Sebaliknya, kekayaan budaya tersebut dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus kekuatan untuk memperkenalkan Jakarta kepada dunia," tegas Rano.
Perkenalkan Jakarta Film Commission
Rangkaian kunjungan Rano di Korea Selatan, berlanjut ke Busan untuk menghadiri Busan International Film Festival.
Kehadiran Jakarta dalam forum perfilman internasional tersebut diarahkan untuk memperkenalkan Jakarta Film Commission kepada jejaring industri film dunia.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta memperkuat ekosistem perfilman, sekaligus meningkatkan posisi Jakarta sebagai salah satu pusat produksi dan pengembangan industri audiovisual.
Rano menilai forum di Busan menjadi kesempatan untuk membangun jejaring dengan sineas, produser, investor, festival, serta pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya membuka peluang bagi Jakarta, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas bagi perkembangan industri perfilman Indonesia.
Di tengah perjalanan menuju usia 500 tahun, Rano mengatakan, Jakarta perlu melihat sejarah panjang kotanya sebagai sumber kekuatan untuk melangkah ke masa depan.
Ditegaskan Rano, perayaan lima abad Jakarta, bukan semata-mata penanda usia sebuah kota. Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kepada dunia sebuah Jakarta yang terus berubah, semakin terbuka dan global, namun tetap memiliki sejarah serta akar kebudayaan yang kuat.
Dalam kesempatan tersebut, Rano mengundang masyarakat Korea Selatan untuk datang ke Jakarta dan bersama-sama merayakan perjalanan lima abad Ibu Kota, sekaligus mengenal lebih dekat warisan budaya dan kreativitas masyarakatnya.
“Jakarta adalah kota yang terus tumbuh. Kita ingin dunia melihat Jakarta bukan hanya sebagai kota dengan sejarah yang panjang, tetapi juga sebagai kota yang punya masa depan, kreativitas, dan keberanian untuk terus berkolaborasi,” tandasnya.